Jakalola The Sun memasuki dusun Ling-chung dengan langkah seenaknya. Pemandangan di sepanjang perjalanan tadi amat indah, mendatangkan rasa tenang dan tenteram di hati, menggembirakan perasaannya. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di kota dan sibuk dengan urusan kerajaan, pertempuran dan peperangan, sekarang keadaan di dusun-dusun terasa amat aman dan tenteram baginya. Musim panen sudah hampir tiba, padi dan gandum di sawah sucsah hamil tua, siap untuk dipotong. Pencuduk dusun, tua muda laki perempuan agaknya enggan meninggalkan sawah ladang yang mereka pelihara setiap hari seperti memelihara anak-anak sendiri, enggan meninggalkan harta pusaka yang juga me-rupakan penyambung nyawa mereka, tu padi-padi menguning. Mereka siang malam menjaga keras terhadap gangguan burung di waktu siang dan tikus-tikus di waktu malam. The Sun adalah anak murid Go-Bi-san, putera mendiang The Siu Kai seorang pembesar militer Mongol yang sekeluarganya terbasmi habis oleh Ahala Beng, kecuali The Sun yang dapat menyelamatkan diri. Di dalam cerita PENDEKAR BUTA, diceritakan betapa The Sun yang cerdik, lihai dan bercita-cita tinggi berhasil menjadi orang kepercayaan Kaisar Hui Ti atau Kian Bun Ti, akan tetapi dalam perang saudara antara Hui Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo, Hui Ti kalah dan kerajaan dirampas oleh Raja Muda Yung Lo. Dalam pertempuran hebat, The Sun dan teman-temannya kalah oleh Pendekar Buta dan teman-temannya, nyaris dla tewas kalau saja dia tidak ditolong oleh kakek gurunya, . Hek Lojin, yang berhasil membawanya lari. Namun Hek Lojin, tokoh Go-bi itu, juga terluka oleh Pendekar Buta, lengan kirinya menjadi buntung! Peristiwa itu baru beberapa bulan saja terjadi. Setelah nnengantar kakek gurunya yang terluka itu ke puncak Go bi-san, The Sun yang tidak betah tinggal di puncak gunung yang sunyi dan dingin, lalu turun gunung. Akan tetapi amat jauh bedanya The Sun dahulu dan sekarang. la masih tetap tampan dan gagah, gerak-geriknya lemah-lembut, namun pakaian-nya kini adalah pakaian sederhana, bukan pakaian pembesar maupun pelajar yang pesolek lagi. Malah dia tidak membawa-bawa pedang. la harus menyamar se-bagai seorang penduduk biasa, karena tentu saja dia merupakan seorang yang dicari oleh pemerintah baru, yaitu pe-merintah Kaisar Yung Lo atau yang sekarang disebut Kaisar Cheng Tsu. Biar-pun kota raja sudah dipindahkan ke u'tara (Peking), namun masih banyak orang-orangnya kaisar baru ini yang akan me-ngenalnya dan akan senang menangkapnya untuk mencari pahala. Oleh karena inilah, The Sun tidak berani ke selatan, dan klni dia hendak melakukan perantauan ke utara. Seenak-nya dia melakukan perjalanan, menikmati ketentraman dusun-dusun dan diam-diam dia merasa betapa bodohnya dia dahulu, mencari keributan dan kesenangan hanpa belaka di kota raja. Alangkah indahnya pemandangan di gunung-gunung, sawah-sawah hijau segar, gadis-gadis dusun yang memiliki kecantikan segar dan wajar, sehat dan pipinya merah jambu tanpa yanci (pemerah pipi). Penyamarannya ynembuat dia berlaku hati-hati sekali. Biarpun hatinya masih jungkir balik kalau melihat gadis-gadis dusun yang manis segar itu, namun tidak seperti dulu kalau Jnelihat wanita cantik dia terus saja berusaha mendapatkannya secara kasar maupun halus, dia sekarang hanya me-nelan ludah, menekan perasaan dan kalau gadis itu terlalu cantik dan membalas senyumannya, dia sengaja membuang muka dan mempercepat langkah meninggalkannya. The Sun sesungguhnya adalah keturunan orang besar. la menjadi rusak dan dahulu berwatak sombong, mau menang sendiri, mata keranjang, adalah karena pengaruh lingkungan dan hubungannya. Buktinya sekarahg setelah dia berkelana seorang diri, tidak mempunyai kedudukan dan tidak mempunyai senderan, tidak ada sesuatu yang boleh dia andalkan, dia dapat menguasai perasaan dan nafsunya. Memang betul kata-kata orang bijak bah-wa KESEMPATAN-lah yang membuat orang menjadi LEMAH, yaitu lemah ter-hadap dorongan nafsu-nafsu buruk. Setiap perbuatan maksiat, pertama kali dilaku-kan orang tentu karena mendapat ke-sempatan inilah. Kemudian menjadi kebiasaan dan membentuk watak. Dusun King-chung tampak sunyi kare-na sebagian besar penghuninya pada sibuk menjaga sawah dengan wajah gembira penuh harapan. The Sun melihat ke kanan kiri, mencari-cari sebuah warung nasi dengan pandang matanya, karena pagi hari itu dia amat lapar setelah melakukan perjalanan semalam suntuk tanpa berhenti. Mendadak dia mendengar lapat-iapat suara wanita menjerit. Telinganya yang terlatih dapat menangkap ini dan seketika dia meloncat dan lari menuju ke utara, ke arah suara itu. Di sebelah utara dusun ini sunyi sekali, tak tampak seorang pun manusia, bahkan bagian ini merupakan bagian yang tidak subur dari dusun itu, banyak terdapat rawa yang tak terurus. Di sudut sana tampak se-buah rumah tua yang agaknya tidak ditinggali orang. "Tolong.....!" sekali lagi terdengar jeritan lemah dan The Sun segera mempercepat larinya menuju ke rumah tua karena dari sanalah pekik itu datangnya. Dengan gerakan seperti seekor burung garuda melayang, dia melompat dan se-tibanya di dalam rumah tua melalui pintu yang tidak berdaun lagi, dia tertegun dan matanya membelalak memandang ke dalam. Mukanya seketika menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar berapi-api. Apa yang tampak olehnya di sebelah dalam rumah rusak itu benar-benar membuat The Sun marah sekali. Di atas lantai yang kotor duduk me-nangis seorang wanita muda yang pakai-annya robek-robek di bagian atas se-hingga tampak pundak dan sebagian dadanya, yang berkulit putih seperti salju, Wanita ini cantik jelita dan mukanya pucat, rambutnya awut-awutan. Di sana-sini kelihatan robekan kain pakaiannya, dan sebagian daripada robekan kain ma-sih berada di tangan seorang laki-laki yang berdiri membungkuk di depan wa-nita itu. Laki-laki yang menyeramkan. Tinggi besar seperti raksasa, rambut panjang terurai, mukanya buruk dan si-kapnya kasar dan canggung sekaii, se-pasang matanya membuat orang bergidik, karena mata seperti itu biasanya hanya terdapat pada muka orang gila. Mata yang liar, bodoh dan aneh. "Bangsat kurang ajar! Berani kau mengganggu wanita?" bentak The Sun sambil meloncat ke dalam. Laki-laki tinggi besar itu, tiba-tiba membalikkan tubuh dan mengeluarkan suara menggereng seperti harimau, tiba-tiba dia tertawa bergelak dan suaranya seperti gembreng pecah. "Pergi kau! jangan ikut campur, dia milikku, heh-heh-hehi" The Sun termangu dan meragu, lalu menoleh kepada wanita itu. Mungkinkah si jelita ini milik orang gila itu? Isterinya? Sambil tertawa-tawa si gila itu kem-bali mendekat, tangannya yang besar dan kasar hendak meraih si cantik. Wanita itu bergidik dan berseru lemah, "Jangan sentuh aku.....! Kang Moh, jangan..... kau kaubunuh saja aku....." The Sun makin bingung. "Nona..... eh, Nyonya...... dia siapakah? Apakah suamimu?" "Bukan.....! Sama sekali bukan! Dia orang gila di dusun ini..... ah, Tuan, tolonglah, suruh dia pergi dan jangan biarkan dia ganggu aku...... lebih baik aku mati, ya Tuhan..,.," Ia menangis sedih sekali. "Keparat! Mundur dan minggat kau!" The Sun kini maju dengan hati tetap. Lega hatinya bahwa wanita ini bukan isteri si gila ini dan kemarahannya timbul kembali, malah lebih hebat daripada tadi. Kang Moh buaya gila itu tiba-tiba memekik keras dan menerjang maju, menghantam The Sun. Gerakannya kuat sekali, membayangkan tenaga yang luar biasa, sedangkan gerakan tangan kakinya menunjukkan bahwa sedikit banyak orang ini pernah h"elajar silat. Namun yang diserang kini adalah The Sun. Orang sekampung itu boleh takut kepadanya, akan tetapi menghadapi The Sun, dia seperti menghadapi kakek gurunya. Sekali dia miringkan tubuh dan menggeser kaki ke kiri, The Sun sudah menghindarkan diri dari terjangan lawan, kemudian dua kali tangannya bergerak". sekali menotok leher, kedua kalinya me-nusuk ulu hati dengan jari-jari terbuka. Terdengar suara "ngekkk!" dan tubuh Kang Moh yang tinggi besar itu roboh terjengkang seperti pohon ditebang dan..... dia tidak bergerak-gerak lagi karena dua kali pukulan tadi ternyata sudah mengirim nyawanya meninggalkan badan Ma" tanya mendelik dan dari mulut, hidung dan telinganya keluar darah! The Sun bekerja cepat. Sekali reng-gut dia telah membuka jubah si gila itu. "Nona, kaupakailah ini, untuk sementara lumayan guna menutupi pundakmu." Wanita itu berdiri dengan lemah, mukanya yang tadinya pucat n.enjadi agak merah, tampak gugup dan malu-malu. Kemudian, setelah menutupkan jubah yang berbau apek itu ke atas pundaknya, ia menjatuhkan diri berlutut di depan The Sun. "Terima kasih..... terima kasih, Tuan..... tapi tiada gunanya...,. ah, tiada gunanya aku hidup....." la menangis terisak-isak dan tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sementara itu, The Sun sudah mendapat kesempatan memandang. Wanita ini bukan main cantik jelitanya dan aneh sekali, jantungnya berdegup tidak karuan. Banyak dia mengenal wanita cantik, akan tetapi agaknya baru kali ini ada seorang wanita yang dapat membuat dia marah bukan main tadi, dan kini membuat jan-tungnya berdebar keras. Wajah manis itu seperti pisau belati menikam ulu hatinya, mendatangkan rasa kasihan yang tiada dasarnya. Mata itu, hidung dan muiut itu, seakan-akan menggurat-gurat kalbu-nya, menggores-gores jantungnya, minta dikasihani. Dengan kedua kaki lemas, The Sun lalu berlutut pula di depannya. "Jangan berduka, Nona. Kesukaran apakah yang kauhadapi? Dia itu kurang ajar kepadamu? Lihat, sudah kubikin mampus dia! Manusia macam dia berani mengganggumu? Biar ada seratus orang macam dia, semua akan kubasmi kalau mereka berani mengganggumu!" Mendengar ucapan yang penuh ke-marahan ini, wanita itu mengangkat mu-ka memandang. Muka yang kini pucat kembali, yang amat ayu dan patut dikasihani, yang basah air mata. "Saya berterima kasih sekali bahwa Tuan telah menolong saya dari tangan Kang Moh yang gila itu, akan tetapi..... Inkong (Tuan Penolong) semua itu percuma..... tak dapat membebaskan diri saya daripada kesengsaraan..... dan jalan satu-satunya bagi saya hanya mati....." "Tidak ada kesulitan di dunia ini yang tak dapat diatasi. Memilih jalan kematian adalah pikiran sesat. Nona, percaya-lah kepadaku, aku The Sun siap untuk menolongmu sampai titik darah terakhir. Kauceritakan saja kepadaku kesukaran apa yang kauderita." Mendengar ucapan yang tegas dan sikap yang sungguh-sungguh ini, wanita itu menjadi terharu sekali, lalu erisak-isak ia menceritakan penderitaamya. la bernama Ciu Kim Hoa, semenjak kecil ia sudah diberikan oleh ayah bundanya kepada seorang pamannya, karena ayah bundanya bercerai dan kawin lagi. Pamannya bukanlah orang baik-baik, selama hidup di rumah pamannya, ia diperas tenaganya, bekerja kasar dan berat. Beberapa kali ia mencoba untuk minggat, akan tetapi selalu gagal dan hasilnya hanya gebukan dan tendangan. "Kekejaman itu masih dapat saya tahan, Inkong, karena kadang-kadang paman itu pun bersikap baik dan keduka-an saya terhibur. Akan tetapi, setahun yang lalu dia telah menjual saya kepada keluarga Lee di dusun ini dan mulailah penderitaan batin yang tak tertanankan lagi....." la menangls terisak-isak. Diam-diam The Sun menaruh kasihan. Wanita begini lemah dan cantik jelita, mengapa nasibnya demikian buruk? la membiarkan nona itu menangis sejenak, lalu menghibur, "Sudahlah, Nona. Semua penderitaan itu takkan terulang kembali, ceritakan selanjutnya, mengapa kau men-derita di rumah keluarga Lee?" Setelah menghapus air matanya, wanita itu melanjutkan, "Kalau di rumah paman saya hanya menderita lahir, di rumah ini saya menderita lahir batin. Mula-mula kedua orang tua dari keluarga itu balk terhadap saya, akan tetapi tiga bulan kemudian saya dijadikan permainan oleh tiga orang anak laki-lakl keluarga Lee. Usia mereka antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, mereka laki-laki yang kejam. Saya tak dapat menolak, tak dapat melarikan diri, beberapa kali mencoba membunuh diri juga mereka halang-ihalangi, ah..... In-kong..... apa artinya 'lagi hidup ini.....?" The Sun menggigit gigi sampai mengeluarkan bunyi berkerot. Selain kasihan ! kepada wanita inj, dia pun merasa hati-'nya panas dan marah sekali. "Teruskan...... teruskan.....!" Desaknya dengan suara keras dan napas memburu. "In-kong..... betapa hancur hati saya ketlka saya mendapatkan diri saya..... mengandung! Saya ceritakan kepada mereka dan menuntut supaya dikawin dengan sah. Tapi apa yang saya dapatkan? Mereka marah-marah. Saya diusir dengan tuduhan main gila dengan laki-lak luar, padahal mereka bertigalah yang memaksa dan mempermainkan saya. "Keparat jahanann!!" The Sun memakl, akan tetapi tiba-tiba mukanya merah sekali dan dia termenung. Teringatlah dia ketika dia masih dalam keadaan jaya dahulu, entah berapa banyak wanita yang dia permainkan tanpa mempedulikan aki-batnya. Heran sekali. Biasanya mendengar cerita macam ini baginya malah terasa lucu, dan biasanya mungkin dia akan mentertawakan wanita yang mengalami nasib demikian. Akan tetapi mengapa sekarang, di depan wanita ini, timbul rasa kasihan dan marah? Apakah ini kemarahan karena dia tak senang men-dengar orang melakukan perbuatan jahat dan sewenang-wenang, ataukah kerftarah-an ini tlmbul justeru karena wanita ini-lah yang dipermainkan dia tidak tahu, pendeknya waktu itu dia marah sekali terhadap mereka yang telah memper-mainkan wanita itu. "Kemudian bagaimana, Nona? Teruskan'" "Saya diusir dari rumah mereka tanpa . diberi apa-apa dan diancam akan dipukuli sampai mati kalau tidak lekas pergi. Dengan hati remuk saya terpaksa pergi dan sampai di rumah tua ini karena tidak ada lain tempat yang dapat saya datangi. Tak lama kemudian datanglah Kang Moh ini....." la memandang ke arah mayat itu dan bergidik ngeri. "Dia ini juga orang-nya keluarga Lee, dan tadinya saya kira dia menyusul dengan pesan dan maksud baik daripada mereka. Tidak tahunya Kang Moh hendak melakukan perbuatan keji dan melanggar susila. Baiknya kau datang menolong, In-kong...... akan tetapi setelah In-kong menolong saya, apa arti-nya bagi saya? Keadaan saya masih belum terlepas daripada penderitaan, saya tiada sanak keluarga, tiada handai taulan, tiada sahabat. Ke mana saya harus pergi? Bagaimana saya dapat hidup?" Ia menangis lagi sesenggukan. The Sun bangkit berdiri. Dalam sinar matanya tampak api yang penuh ancaman. "Nona, di mana tempat tinggal keluarga Lee itu? Katakan di mana mereka itu, akan saya paksa mereka meneri-mamu kembali dan mengawinimu sebagai-mana mestinya." "Percuma, In-kong. Mereka tidak akan mau dan harap In-kong jangan memandang rendah mereka. Mereka itu orang-orang kejam dan ganas, pandai main silat dan di dalam dusun ini selain terkenal sebagai keluarga terkaya, memiliki tanah yang luas, juga terkenal sebagai jagoan-jagoannya. Tiga orang itu ditakuti semua orang di dusun. Jangan-jangan kau akan dipukuli, In-kong, dan kalau hal ini terjadi, ah, aku menyesal, karena kau tertimpa malapetaka oleh karena aku." The Sun tertawa. "Anjing-anjing itu mampu memukul saya? Ha-ha-ha, Nona, boleh mereka coba! Kautunggu saja disini sebentar, Nona. Aku tanggung bahwa mereka akan menerimamu secara baik-baik atau mampus, karena hanya itulah pilihan mereka. Nah, di sebelah mana rumah mereka?" Nona itu menuding ke arah timur. "Rumah mereka mudah dikenal, paling besar, merupakan gedung tembok dan di depannya banyak gentong-gentong tempat gandum. Mereka siap menerima hasil panen dan gentong-gentong itu sudah dijajarkan di pekarangan depan." "Nona tunggu saja sebentar di sini, aku akan segera datang lagi." The Sun berkata sambil melangkah lebar meng-hampiri mayat Kang Moh, kemudian dia mencengkeram rambut mayat itu dan menyeretnya ke luar dari dalam rumah tua. Tentu saja orang-orang menjadi heran dan terbelalak memandang seorang laki-laki muda dan tampan berjalan cepat di jalan dusun sambil menyeret tubuh Kang Moh yang sudah menjadi mayat! Semua orang dusun mengenal siapa Kang Moh dan amat takut kepadanya, karena Kang Moh merupakantukang pukul keluarga Lee. Siapa kira sekarang Kang Moh sudah mati dan mayatnya diseret-seret seperti bangkai anjing saja oleh seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Apalagi melihat pemuda itu .menuju ke rumah gedung keluarga Lee, keheranan mereka bertambah dan berbondong-bondong orang dusun mengikut The Sun dari belakang. Akan tetapi, karena rasa ngeri, takut dan juga jerih akan kemarahan keluarga Le, mereka mengikuti dari jauh dan seeara setengah sembunyi. Memang mudah mengenal geduhg keluarga Lee. Di dalam pekarangan de-pan rumah itu terdapat banyak gentong yang masih kosong dan sebuah alat timbangan digantung di sudut. The Sun me-nyeret mayat Kang Moh ke dalam peka-rangan yang masih sunyi itu, kemudian dia mengangkat mayat itu, dilernparkan ke ruangan dalam. Mayat itu melayang ke depan menubruk pintu yang segera terbuka dan menimbulkan suara hiruk-pikuk. Terdengar pekik kaget di sebelah dalam rumah. "Kau kenapa, Kang Moh? He, dia..... dia mati....." Di dalam rumah menjadi ribut dan terdengar bentakan keras, "Siapa yang main gila di sini?" Lalu melompatlah sesosok bayangan orang tinggi kurus dari dalam. Ketika tiba di luar dan melihat The Sun berdiri bertolak pinggang di dalam pekarangan, orang itu melangkah lebar, menghampiri. The Sun memandang dengan senyum mengejek. Orang ini usianya kira-kira tiga puluh tahun, kelihatan kuat dan gerak-geriknya geslt, tanda bahwa dia mengerti ilmu silat. Teringat akan cerita nona itu, dia segera mendahului, "Apakah kau putera keluarga Lee yang tertua?" "Jembel busuk, kau siapa? Benar, aku tuanmu adalah putera sulung. Mau apa kau mencari Lee-toaya? Eh, mayat Kang Moh itu....." Orang itu ragu-ragu dan melirik ke dalam rumah. "Tak usah bingung. Mayat itu aku yang melemparkan ke dalam, malah akulah yang telah membunuhnya." Orang she Lee Itu kaget setengah mati, juga marah sampai mukanya merah. " Siapa kau dan mengapa kau main gila di sini?" "Aku The Sun, kulihat anjing gila peliharaanmu itu hendak mengganggu nona yang seharusnya menjadi nyonya rumah di sini. Orang she Lee, kau dan dua orang adikmu, telah berlaku se-wenang-wenang kepada nona Ciu Kim Hoa. Setelah kalian berbuat mengapa tidak berani bertanggung jawab? Mengapa kalian malah mengutus anjing gila peli-haraan kalian itu untuk menggigitnya?" Muka yang pucat itu kini berubah merah. Kemarahan putera sulung Lee ini tidak dapat dikendalikannya lagi. "Bangsat rendah, jembel busuk, beranl kau bicara begini di depanku? Berani kau mencampuri urusan kami? Setan, kau mau apa?" Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingih sekali pukul The Sun membinasakah orang ini. Namun dia ingat akan Ciu Kim Hoa dan dia menahan kesabarannya. "Orang she Lee, sekarang kaupilihlah salah satu. Pertama, kau harus menerima kembali nona Ciu, mohon ampun kepadanya, kemudian mengawininya secara sah, menyerahkan hak kepadanya sebagai nyo-nya rumah dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Atau yang ke dua, kau dan adik-adikmu itu boleh memilih kematian di tanganku, karena demi roh nenek moyangmu, kalau kau tidak memenuhi tuntutanku itu, aku akan membunuh kalian bertiga!" "Keparat, kaukira aku takut akan ancamanmu yang kosong? Kau malah yang harus membayar hutangmu atas nyawa Kang Moh!" Orang she Lee itu lalu membentak keras dan menerjang maju, mengirim pukulan tangan kanan yang keras ke arah dada The Sun. Me-Uhat gerakan ini, The Sun tersenyum. Seorang ahli silat biasa saja. Kalau dia mau, sekali sodok dia akan dapat membauat nyawa orang ini melayang ke neraka. Akan tetapi dia tidak mau menuruti nafsu hattnya dan ingin memperlihatkan kepandaiannya agar orang ini kapok dan taat. Dengan mudah dia mengelak dengan miringkan tubuh, kemudian tangan kirinya menyambar dan "plak-plak!" kedua pipi di muka orang she Lee itu dia tampar de-ngan keras. Seketika kedua pipi itu menjadi bengkak dan orang itu mengusap-usap kedua pipinya dengan pringisan sa-king nyerinya. Namun dia membentak lagi dan menerjang makin marah, malah dibarengi teriakan keras memanggil adik-adiknya. Sebetulnya tak perlu dia berteriak karena dua orang adiknya itu setelah tadi ribut-ribut memeriksa tubuh Kang Moh, sekarang sudah berlari ke luar dan mereka marah sekali melihat betapa kakak mereka bertempur dengan seorang pemuda yang tak mereka kenal. Siapa orangnya yang berani berkelahi, dengan Lee Kong, kakak mereka? Kurang ajar! Tanpa berkata apa-apa lagi dua orang pemuda yang usianya kira-kira dua puluh empat dan dua puluh delapan tahun ini serta merta menyerbu dan mengeroyok The Sun. "Ha-ha-ha, jadi kalian bertiga inikah putera-putera keluarga Lee? Bagus, sekarang dapat kuberi hajaran sekaligus." Begitu ucapannya terhenti, terdengar pekik kesakitan tiga kali dan tiga orang muda itu terlempar ke belakang dan roboh bergulingan. Baiknya The Sun ha-nya ingin memberi hajaran saja, maka mereka tidak terluka hebat, hanya di-lemparkan dan roboh saja. "Nah, sekarang bersumpahlah untuk menerima kembali nona Ciu dan menga-wininya secara sah. Kalau kalian tidak mau, sekali lagi robph kalian takkan mampu bangun lagi!" Dasar pemuda-pemuda hartawan yang sudah terlalu biasa semenjak kecil diberi kemenangan terus, tiga orang she Lee ini tentu saja enggah mengalah. Pengalaman pahit ini baru mereka alami kali ini selama mereka hidup. Biasanya, jangankan merobohkan mereka, melawan pun tidak ada yang berani. "Jembel busuk, kaulah yang akan mampus!" teriak mereka dan seperti tiga ekor anjing galak, mereka menyerbu lagi, kinl' malah dengan senjata di tangan. Kiranya mereka itu masing-masing me-nyimpan sebatang pisau panjang yang tadi mereka selipkan di ikat pinggang. Habislah kesabaran The Sun. la maklum bahwa andaikata mereka itu ter-paksa menerima kembali Kim Hoa kare-na dia tekan, kiranya nona itu kelak takkan terjamin keselamatan dan ke-bahagiaannya hidup di tengah orang-orang macam ini. Kasihan nona itu kalau harus menjadi keluarga mereka, tentu hanya siksa dan derita saja yang akan dia alami selama hidupnya. Kemarahannya memun-cak, apalagi melihat befkelebatnya tiga batang pisau panjang itu, baginya seperti seekor harimau mencium darah. The Sun berseru panjang, melengking tinggi suara-nya dan gerakannya amat cepat sehingga tiba-tiba lenyaplah dia dari pandangan mata ketiga orang pengeroyoknya. Jerit yang terdengar beruntun tiga kali sekarang amat mengerikan karena itulah jerit kematian dari tiga orang pengeroyok itu. Tahu-tahu mereka telah roboh berkelojotan dan tepat di ulu hati mereka tertancap pisau masing-masing, amat dalam sampai ke gagangnya dan ujung pisau tembus sedikit di punggung! Adapun The Sun sudan tak tampak lagi di tempat itu! Gegerlah dusun itu. Orang-orang yang tadi menonton sambil sembunyi, sekarang keluar dari tempat persembunyian. Na-mun tiga orang muda itu tak tertolong lagi, begitu pisau dicabut nyawa mereka ikut tercabut. Tinggal kakek dan nenek keluarga Lee yang menangis meraung-raung. Tampak juga orang-orang dusun, terutama yang wanita, menangis karena terharu, akan tetapi banyak orang laki-laki dusun itu diam-diam terfawa, bahkan wanita-wanita itu setelah pulang ke gu-buk masing-masing juga tertawa lega. Sudah terlalu banyak penderitaan lahir batin mereka alami dari tiga orang pemuda Lee itu. The Sun sudah kembali ke dalam rumah tua. Hatinya berdebar cemas, dan dia kembali merasa heran kepada dirinya sendiri. Kenapa dia cemas dan takut kalau-kalau wanita itu tidak berada lagi di situ? Kenapa dia khawatir kalau-kalau Kim Hoa membunuh diri? Bagaikan ter-bang dia tadi kembali ke tempat ini dan kedua kakinya gemetar ketika dia memasuki rumah tua. Wajahnya seketika berseri ketika dia lihat Kim Hoa masih berada di siu, berdiri di sudut dengan mata selalu memandang ke luar, agaknya mengharapkan kembalinya. Memang betul dugaannya" karena begitu melihat dla muncul, Kim Hoa segera lari menghampiri. "Bagaimana, In-kong?" The Sun tersenyum dan hendak menggodanya. "Mereka dengan senang hati suka menerimamu kembali, Nona, malah bersedia mengawinimu. Kau akan menjadi nyonya muda di sana, dihormati dan disegani di samping nyonya tua ibu mereka." Tiba-tiba nona itu menangis sesenggukan dan menutupi mukanya. The Sun mengerutkan keningnya, namun sepasang matanya bersinar-sinar dan bibirnya ter-senyum karena dia senang melihat bahwa dugaannya benar. la sudah menduga bahwa gadis itu pasti tidak suka kembali ke sana, biarpun dikawin sah, dijadikan nyonya rumah, karena memang watak tiga orang laki-laki itu amat buruk. "Nona, kenapa kau menangis? Bukanlah hal itu baik sekali?" Kim Hoa menggeleng-gelengkan kepala sambil menangis, sukar baginya mengeluarkan suara karena menangis tersedu-sedu itu. Akhirnya ia dapat menguasai tangisnya dan berkata, "Tidak, 'In-kong..... saya tidak sudi kembali kesana. Mereka mau menerima saya dan mengawini saya hanya karena kaupaksa. Kalau In-kong sudah pergi, tentu mereka akan melampiaskan kemendongkolan hati kepada saya, ha..... ngeri saya memikirkan hal itu." "Nona, apakah kau tidak..... tidak cinta kepada mereka? Kepada seorang di antara mereka?" "Tidak! Tidak! Aku benci kepada me-reka semua!" Aku benci kepada yang muda-muda, juga benci kepada yang tua! Mereka orang-orang jahat dan keji!" The Sun mengerutkan kening dan ragu-ragu untuk mengeluarkan pertanyaan ini, namun dipaksanya, "Maaf, Nona. Tapi..... tapi..... bukankah mereka..... seorang diantara mereka adalah..... ayah daripada anak dalam kandunganmu?" Tiba-tiba Kim Hoa menjatuhkar dirl di atas tanah dan menangis dengan sedih. "Biarkan aku mati..... biarlah aku mati saja..... ya Tuhan, apa dosa hamba sehingga harus menanggung derita dan hinaan seperti ini?" Nona itu roengeluh panjang dan pingsanl', The Sun berlutut, menggeleng-geleng kepala. "Kasihan....." Dengan hati-hati dia lalu mengurut jalan darah di leher dan punggung. Kembali dia merasa heran dan tak mengerti mengapa dadanya ber-debar begitu keras ketika ujung jari ta-ngannya menyentuh kulit leher di pung-gung. Apa, yang aneh dalam diri nona inl sehingga seakan-akan mempunyai besi sembrani yang menariknya amat kuat? Kim Hoa siuman kembali, mula-mula, termenung memandang kosong, kemudian dia mengeluh panjang. "In-kong, pertanyaanmu tadi..... bagaimana saya harus menjawab? Saya dipaksa, saya tak berdaya..... saya benci mereka, saya benci diri sendiri dan saya benci anak dalam kandungan ini ....". "Hushhh, |angan bicara demikian . Anak itu tidak berdosa." "Lebih baik aku bunuh diri, biarlah anak ini tidak sempat terlahir." "Hushhh, tidak boleh. Kau harus hidup, hidup bahagia, juga anak itu harus lahir dalam rumah tangga bahagia." "Bagaimana.....? Apa maksudmu, In-kong .... ? The Sun tidak tersenyum lagi sekarang, wajahnya yang tampan nampak sungguh-sungguh, matanya menatap tajam ketika dia membantu Kim Hoa duduk. "Nona, aku The Sun seorang laki-laki sejati, sekali bicara tidak akan kutarik kembali. Aku juga hidup sebatangkara. Terus terang saja, melihat kau, hatiku timbul kasihan dan cinta. Aku cinta ke-padamu dan kalau kau sudi menerima, aku bersedia menjadi suamimu dan men-jadi ayah daripada anak di kandunganmu. Sekarang juga, jawablah, kalau kau mau akan kubawa ke Go-bi-san di mana kita hidup bahagia di tempat yang jauh dari-pada dunia ramai. Kalau kau tidak mau, terpaksa aku harus meninggalkanmu dan kau boleh pilih apa yang baik untukmu, aku tidak berhak mencampuri lagi." Dapat dibayangkan betapa sukar ke-adaan Kim Hoa di saat itu. la belum mengenal The Sun, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa di dunia ini ada se-orang seperti ini, yang tampan, gagah perkasa dan aneh. la tahu bahwa ia ha-rus dapat menjawab sekarang juga, tanpa ragu-ragu. Terang bahwa pemuda ini berbeda dengan keluarga Lee, berbeda dengan pamannya, berbeda dengan ayah-nya dahulu. Pemuda ini tampan dan memiliki kepandaian luar biasa. Hidup di sampingnya berarti hidup tenteram dan aman, bebas daripada gangguan orang-orang jahat. Sebaliknya kalau ia menolak, jalan satu-satunya hanya membunuh diri. la ngeri kalau memikirkan ini. "Bagaimana, Nona?" The Sun mendesak. "Aduh, In-kong, bagaimana saya harus menjawab? Saya seorang wanita..... bagaimana..... ah..." The Sun mengangguk senang. Keadaan lahir nona ini sudah dia lihat, dan dia amat tertarik dan suka akan kecantikannya. Keadaan batinnya belum dia ketahui, akan tetapi melihat sikap gadis ini, dia dapat menduga bahwa Kim Hoa berperasaan halus dan bersusila tinggi. Hanya karena nasibnya yang buruk, tidak mem-punyai andalan di dunia ini, maka dia terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan seperti itu. "Aku tahu betapa sukarnya bagimu untuk menjawab, Nona. Sekarang jawab-lah dengan anggukan saja. Kalau kau mengangguk, berarti kau sudi menerima tawaranku untuk hidup berdua. Kalau kau menggeleng kepala, aku akan pergi sekarang juga dan tidak akan mengganggumu lebih lama lagi." Dengari air mata bercucuran saking terharu dan juga bahagia karena baru sekarang selama hidupnya ia mendapat-kan orang yang begini memperhatikan nasibnya, Kim Hoa menganggukkan kepalanya sampai berulang-ulang! The Sun tertawa bergelak, menubruk maju dan di lain saat Kim Hoa sudah dipondongnya dan dibawa lari ke luar rumah tua. Kim Hoa kaget sekali, apalagi merasa betapa ia seperti dibawa terbang. Ngeri hatinya. Sedetik ia curiga. Manusia atau bukankah pemuda ini? Bagaimana bisa terbang kalau manusia? Akan tetapi ia menyerahkan diri kepada orang ini, yang dekapannya begitu kokoh kuat, begitu sentosa. la meramkan dan merasa aman, desir angin yang mengaung di kedua telinganya makin lama makin merdu seperti dendang yang meninabobokkannya. * * * Setelah bertemu dengan Ciu Kim Hoa, The Sun benar-benar telah berubah seperti seorang manusia lain. la merasa hidupnya tenteram dan penuh damai tidak bernafsu untuk merantau lagi. Kakek gurunya, Hek Lojin yang sudah buntung lengan kirinya, menerimanya dengan gi-rang dan The Sun bersama Kim Hoa yang ia aku sebagai isterinya, selanjut-nya tinggal di puncak Go-bi-san ini bersama Hek Lojin. Beberapa bulan kemudian Kim Hoa melahirkan seorang anak perempuan yang sehat dan mungil. The Sun menerima kehadiran anak ini dengan gembira dan bahagia, menganggapnya anak sendiri. Anak itu diberi nama Siu Bi dan diberi nama keturunan The. Juga Hek Lojin amat sayang kepada bayi ini, sehingga dalam masa tuanya kakek itu pun me-rasai kebahagiaan. Memang, kebahagiaan dapat dinikmati dalam hal apa pun juga, dalam soal-soal sederhana, asalkan orang dapat mengenalnya. Yang paling bahagia adalah Kim Hoa. la bahagia, juga amat terharu akan sikap suaminya yang benar-benar menganggap Siu Bi seperti anak keturunannya sendiri. la amat kagum akan kebijaksanaan sua-mmya dan bagi Kim Hoa, manusia yang paling mulia di dunia adalah suaminya, The Sun! Memang ganjil dunia ini. Banyak sekali orang menganggap The Sun sebagai seorang manusia jahat, keji, pendeknya bukan manusia baik-baik. Akan tetapi coba tanya Kim Hoa, apakah ada manusia yang lebih mulia daripada The Sun terhadap dirinya? Kelihatannya saja ganjil dan aneh. Keganjilan yang tidak aneh, atau keanehan yang tidak ganjil bagi yang mau memperhatikan. Hidup manusia dikuasai seluruhnya oleh egoism (ke-akuan). Tidaklah mengherankan apa-bila pandangan orang terhadap orang iain juga terbungkus sifat ke-akuan ini. Orang lain yang menguntungkan dirinya, tentu dipandang sebagai orang baik, sebaliknya orang lain yang merugikan dirlnya, tentu , dipandang sebagai orang tidak baik. Dalam hal ini, keuntungan atau kerugian diartikan luas dan mengenai lahir batin, Sifat ke akuan yang sudah menyelubungi seluruh kehidupan manusia ini sudah men-jadi satu dengan penghidupan sehdiri, sehingga sifat ini dianggap umum. Siapa menyeleweng daripada sifat ini, dianggap tidak umum, malah dianggap tidak normal! Inilah dunia dan manusianya, pang-gung sandiwara dengan manusia sebagai badut-badutnya. Dengan The Sun sebagai ayah dan Hek Lojin sebagai kakek guru, tentu saja semenjak kecil Siu Bi digembleng dengan ilmu silat. Hek Lojin malah mengajarnya dengan sungguh-sungguh, sedangkan ayah-nya, The Sun, adalah seorang ahli dalam ilmu surat. Oleh karena itu, semenjak kecil Siu Bi menerima gemblengan ilmu surat dan ilmu silat, malah oleh ibunya dilatih dalam ilmu kewanitaan, memasak dan menyulam. Biarpun anak ini hidup di puncak gunung, tidak pernah melihat kota besar kecuali dusun-dusun di sekitar pegunungan, namun ia menerima pen-didikan anak kota, tidak hanya pandai bermain pedang, berlatih ginkang, Iwee-kang dan memelihara sinkang di dalam tubuh, akan tetapi juga tidak asing akan tata cara dan sopan santun, pandai me-nulis sajak, tahu akan sejarah, pandai meniup suling dan dapat pula mengganti pedang dengan jarum halus untuk menyulam! Siu Bi menjadi seorang gadis cantik, secantik ibunya. Kecintaan yang dilim-pahkan kepadanya oleh ayah ibu dan kakeknya, membuat ia menjadi seprang gadis manja dan nakal, segala keinginannya selalu dituruti dan karenanya tidak biasa menghadapi penolakan terhadap keinginannya. Apa yang ia kehendaki harus dituruti dan dipenuhi! Dalam hal Umu silat, ia telah mewarisi kepandaian ayahnya, bahkan Hek Lojin tidak tanggung-tanggung menurunkan ilmun a yang paling hebat, yaitu ilmu tongkat yang diubah menjadi ilmu pedang untuk disesuaikan dengan gadis itu. "Ilmu ini kuberi nama Ilmu Pedang Cui-beng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Pengejar Roh), cucuku. Jangankan orang lain, ayahmu sendiri tak pernah kuwarisi ilmu pedang yang tadinya adalah ilmu tongkat-ku ini." "Kong-kong, apakah ilmu pedang ini tidak ada tandingannya lagi di dunia ini? Ibu bilang bahwa ayah adalah seorang yang sakti, malah katanya di dunia ini jarang ada yang bisa melawan. Kong-kong sebagai gurunya tentu merupakan jago utama di dunia ini, maka aku ingin kauberi ilmu yang nomor satu di dunia, agar jangan ada orang lain dapat mengalahkan aku". "Ha-ha-ha-ha-ha, kau cerdik, kau pintar'." Dengan tangan kanannya, kakek hitam itu mengelus-elus hidungnya. "Mari kau datang ke kamarku, jangan ketahuan ayah ibumu dan aku akan menurunkan ilmu yang paling hebat ini kepadamu." Siu Bi yang sudah berusia enam belas tahun itu berjlngkrak kegirangan, lalu menggandeng tangan kanan kakeknya dan menyeret orang tua itu ke dalam kamar , Hek Lojin yang lebar dan gelap "Nah, sekarang kau harus berlutut dan 3 bersumpah, baru aku akan menurunkan Cui-beng-kiam-hoat." "Bersumpah segala apa perlunya, Kong-kong7 Apa kau tidak rela menurunkan ilmu itu kepadaku?" Siu Bi mulai merengek manja. "Hisss, anak bodoh. Mempelajari ilmu ini ada syaratnya, dan kalau kau mau bersumpah untuk memenuhi syarat itu kelak, baru aku mau menurunkannya dan mati pun aku akan meram." Kakek itu menghela napas panjang. "Lho, kau susah, Kek? Ada apakah? Bilang saja,cucumu akan dapat menolongmu." Siu Bi menyombong "Kaulihat lengan kiriku ini?" Kakek itu menggerakkan sisa lengan kirinya yang buntung sebatas siku. Tentu saja Siu Bi yang sudah melihatnya sejak kecil tidak merasa ngeri dan sudah biasa. "Bukankah kau dulu bilang karena kecelakaan maka lenganmu buntung, Kek? Ataukah ada cerita lain?" Siu Bi memang cerdik sekali orangnya, jalan pikirannya cepat dan mungkin karena hidup di tem-pat sunyi dan dekat dengan seorang sakti aneh seperti Hek Loj|in, sedikit banyak wataknya juga terbawa aneh dan gadis ini tidak pernah memperlihatkan perasa-an terharu. Perasaannya kuat dan tidak mudah terpengaruh. "Memang karena kecelakaan, akan tetapi kecelakaan yang dibuat oleh orang lain. Lengan kiriku buntung oleh seorang musuhku yang bernama Kwa Kun Hong dan berjuluk Pendekar Buta." "Buta? Dia buta.....? Wah, mana bisa hal ini terjadi? Aku tidak percaya, Kek. Kau bohong!" Hek Lojin menghela napas panjang. Ucapan cucunya yang manja dan sudah biasa bersikap kasar terhadapnya itu pada saat lain tentu akan membuat dia terkekeh geli, akan tetapi saat itu dia menerimanya seperti sebuah tusukan pada jantungnya. Memang memalukan sekali. Dia, tokoh besar Go-bi-san yang namanya sudah sejajar dengan tokoh-tokoh kelas satu di dunia persilatan, menjadi buntung lengan kirinya menghadapi seorang lawan yang buta, dan masih muda lagi! "Aku tidak bodoh, dan memang dia i buta kedua matanya, tapi amat lihai." "Bagaimana kau bisa kalah, Kek? Bukankah kau orang pandai di kolong . langit?" "Pada waktu itu, delapan belas tahun yang lalu, aku belum menciptakan Cui-beng-kiam-hoat, ilmuku ini masih me-rupakan ilmu tongkat yang liar. Juga aku belum menciptakan Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang juga hendak kuajarkan ke-padamu sebagai imbangan dari Cui-beng-kiam-hoat." "Sekarang kau sudah memiliki dua ilmu itu, kenapa tidak mencari dia dan balas membuntungi lengannya?" Karena semenjak kecil berada di puncak Go-bi dan tidak pernah menyaksikan sepak terjang Hek Lojin terhadap orang lain, hanya sehari-hari menyaksikan sikap ka-kek itu terhadapnya amat baik dan men-cinta, tentu saja Siu Bi juga menganggap kakek ini orang yang amat mulia dan baik hatinya. Kembali Hek Lojin menarik napas panjang, tampak berduka. "Aku sudah ma-kin tua, usiaku sudah delapan puluh le-bih, sudah lemah, tenaga sudah hampir habis, mana mampu membalas dendam? Musuhku itu sekarang paling banyak se-tua ayahmu, malah lebih muda lagi, ma-sih sedang kuat-kuatnya. Selain itu, dengan hanya sebuah lengan, mana aku dapat menang? Untuk melawan ilmu pedangnya, dengan pedang yang bersem-bunyi dalam tongkat, dan menghadapi ilmu pukulannya yang mengeluarkan uap putih, harus mainkan Cui-beng-kiam-hoat dan sekaligus tangan kiri mainkan Hek-in-kang. Bagiku tiada harapan lagl, harus kutelan kekalahan dan penghinaan ini dan aku akan mati dengan mata terbelalak kalau tidak ada orang yang dapat membalaskan dendamku." "Hemmm, kalau begitu, kau mau me-nurunkan kedua ilmu itu kepadaku dengan syarat bahwa aku harus membalaskan dendammu terhadap Pendekar Buta itu, Kek?" Dengan lengan kanannya, Hek Lojin memeluk pundak cucunya. "Siu Bi, kau benar-benar menggembirakan hatiku. Kau cerdik, kau pintar, kau tahu akan isi hatiku. Benar, cucuku, kau bersumpahlah bahwa kelak kau akan membalaskan hina-an atas diriku ini kepada Pendekar Buta, dan sekarang juga aku akan wariskan kedua Umu itu kepadamu." "Kong-kong, tanpa hadiah apa pun juga, sudah menjadi kewajibanku untuk membalaskan sakit hatimu' Terlalu sekali Pendekar Buta. Sudah buta matanya, buta pula hatinya, menghina orang se-sukanya. Lengan orang dibuntungi, hemmm, padahal kau seorang tua yang baik dan tidak berdosa, apa dikiranya dia seorang saja yang paling pandai di dunia ini? Jangan khawatir, Kek, aku bersumpah, kelak kalau ada kesempatan tentu aku akan membuntungi lengan kirinya, persis seperti yang telah dia lakukan kepadamu." "Orang hutang harus ada bunganya, Siu Bi. Keenakan dia kalau hanya dibuntungi lengan kirinya seperti aku, harus ada tebusan bagi penderitaanku belasan tahun ini. Tidak hanya dia, juga kalau dia mempunyai anak, anak-anaknya harus kau buntungi pula lengan kirinya." "Bapaknya jahat anaknya pun tentu jahat. Baik, Kek, akan kutaati permintaanmu itu." Bukan main girangnya hati Hek Lojin dan semenjak hari itu dia menurunkan Ilmu Pukulan Hek-in-kang yang kalau dimainkan dengan sempurna, dari tangan si pemain akan keluar uap kehitaman yang mengandung racun Tanpa ia sadari, gadis yang bersih itu dikotori oleh ilmu silat yang mengandung ilmu hitam, tidak ini saja, malah di hatinya telah ditanamkan bibit permusuhan yang hanya dapat dipuaskan dengan alir-an darah dan buntungnya lengan entah berapa orang banyaknya! Tidak mudah mewarisi dua macam ilmu itu. Biarpun Siu Bi sudah mempunyai dasar yang kuat, namun untuk memahami dua buah ilmu itu ia harus berlatih sampai setahun lebih lamanya! Bukan main cepatnya kemajuan gadis Itu setelah ia mewarisi dua macam ilmu silat ini dari kakeknya. The Sun sama sekali tidak tahu akan hal ini, karena kakek dan gadis itu tidak memberi tahu kepadanya. Memang keduanya merahasia-kan hal ini dan The Sun sama sekali tidak mengira bahwa kakek itu telah menciptakan ilmu silat yang demikian hebat dan dahsyat. Pada suatu senja, secara iseng-iseng ayah ini mengintai kamar anaknya, kare-na dia merasa heran mengapa sekarang sore-sore gadis itu sudah masuk ke ka-mar sehabis makan sore. Alangkah heran-nya ketika dia melihat gadis itu berjungkir balik di atas tempat tidurnya, kepala di atas kasur dan kedua kaki lurus ke atas, kemudian kedua tangannya bergerak-gerak aneh. Yang amat mengagetkan hatinya adalah cara gadis itu berlatih pernapasan, mengapa secara berjungkir seperti itu? Diam-diam dia merasa herran, akan tetapi dia tidak mau meng-ganggu, hanya mengintai terus sampai jauh malam. Ketika menjelang tengah malam anaknya itu melompat keluar jendela secara diam-diam dan pergi ke pekarangan belakang. The Sun mengikutinya dengan hati tidak enak. la melihat anaknya itu mencabut pedang dan bersilat di bawah sinar bulan purnama. Bukan main hebatnya. The Sun melongo ketika menyaksikan betapa pe-dang itu bergulung-gulung mengeluarkan hawa dingin dengan sinar menghitam, kemudian dia makin kaget ketika tangan kiri anaknya itu diputar-putar dan di-gerakkan sedermkian rupa sehingga mengeluarkan uap berwarna hitam pula! Tiba-tiba muncul bayangan hitam yang dikenal oleh The Sun biarpun keadaan remang-remang, karena orang ini bukan lain adalah Hek Lojin. Kakek itu keluar sambil tertawa bergelak, "Bagus, bagus! Kau malah lebih hebat daripada aku sepuluh tahun yang lalu. Cucuku yang pintar, cucuku yang manis, kaulah yang akan membikin aku dapat mati meram. Sekarang tinggal aku menagih janji, kau harus memermhi janji dan sumpahmu." "Di mana adanya Pendekar Buta itu, Kek?" "Ha-ha-ha, dia manusia sombong itu berdiam di puncak Liong-thouw-san. Dia sebetulnya putera ketua Hoa-san-pai. Kaucari dia di Liong-thouw-san, kalau tidak ada susul ke Hoa-san-pai, buntungi lengannya dan lengan isterinya, juga lengan anak-anaknya. Ha-ha-ha, aku akan mati meram." Tiba-tiba The Sun melompat ke luar, bulu tengkuknya berdiri. "Suhu (guru)! Siu Bi! Apa artinya ini semua? Dari mana kau mendapatkan ilmu setan itu?" "Ayah, ilmu warisan Kong-kong bagai-mana kau berani menyebutnya ilmu setan?" The Sun makin tercengang, lalu memandang kakek itu yang diam saja. "Suhu, benarkah Suhu yang mewariskan kedua ilmu itu?" "Hemmm, betul, Ilmu Pedang Cui-beng-kiam-hoat adalah perubahan dari ilmu tongkat hitamku dan Ilmu Pukulan Hek-in-kang itu adalah inti sari Iweekang yang kupelajari. Kedua ilmu ini perlu untuk menghadapi kepandaian Kun Hong si manusia buta." "Suhu!!" The Sun berseru keras, kct mudian dia berpaling kepada Siu Bi sann-bil membentak keras. "Hayo kau kembali ke kamarmu!" Bentakan ini ketus dan marah. Siu Bi selama hidupnya belum pernah dibentak seperti ini oleh ayahnya, maka dia terisak menangis sambil berlari masuk ke kamarnya! Akan tetapi, gadis yang amat cerdik ini tentu saja tidak merasa puas kalau harus mehangis begitu saja. la amat penasaran dan diam-diam ia mempergunakan ginkangnya yang tinggi untuk keluar lagi dari dalam kamarnya, berindap-indap mengintai dan mendengarkan percakapan antara kakeknya dan ayahnya. Dan apa yang ia dengar malam itu baginya merupakan tusukan-tusukan pedang beracun yang berkesan hebat dan menggores dalam-dalam di kalbunya. "Suhu," la mendengar ayahnya men-cela, "bagaimanakah Suhu mempunyai niat yang begitu berbahaya? Mengapa Siu Bi Suhu bawa-bawa, Suhu seret ke dalam gelombang permusuhan pribadi? Saya nnenyesal sekali, karena menurut pen-dapat teecu (murid), permusuhan dengan Pendekar Buta bukan merupakan per-musuhan pribadi, melainkan permusuhan karena negara. Teecu tidak suka dia diseret ke dalam permusuhan Suhu itu, malah teecu mempunyai keinginan untuk menjodohkan dia dengan seorang di antara para ksatria dari Hoa-san-pai atau Thai-san-pai, agar keturunan teecu kelak menjadi orang-orang gagah perkasa yang terhormat dan membuat nama besar di dunia." "Huh, The Sun. Kau sekarang mau pura-pura menjadi orang alim? Apa kau tidak melihat lenganku yang buntung ini? Apakah sakit hati ini harus didiamkan saja'? Bukankah ini berarti merendahkan nama besar Go-bi-san? The Sun, mana kegagahanmu? Mana baktimu terhadap guru? Ah, dia lebih gagah dari padaniu, lebih setla dan berbakti!" "Suhu, terang bahwa Pendekar Buta bukan musuh teecu. Andaikata teecu tidak akan yakin betul bahwa teecu takkan mampu menandinginya, tentu teecu sudah lama mencarinya untuk diajak bertanding. Kalau memang Suhu begitu menaruh dendam kepadanya, mengapa tidak Suhu sendiri turun gunung, men-i carinya dan menantangnya? Masa gadis remaja seperti dia disuruh turun gunung? Teecu tidak setuju dan tidak boleh!" Suara The Sun mengeras. "Hemmm, kau murid durhaka Aku sudah begini tua, bagaimana dapat membalas dendam sendiri? Apa artinya punya murid? Apa artinya menurunkan kepandaian? Kau sendiri dulu kalau tidak lekas-lekas kubawa lari, apakah juga tidak akan mampus di tangan Pendekar Buta? Sekarang, Siu Bi suka membalaskan dendam, mengapa kau ribut-ribut? Kalau kau tidak becus membalas budi guru, biarlah dia yang pergi. Kau tidak mau ya sudah, tapi dia mau, perlu apa kau ribut lagi?" "Tapi dia puteriku, Suhu. Dia anak tunggal...... seorang gadis lagi....." "Siapa bilang dia puterimu? Ha-ha-ha, dia bukan anakmu!" "Suhu.....!!!" "Ha-ha-ho-ho-ho, kaukira Hek Lojin sudah pikun dan bermata buta? Ha-ha-ha, The Sun, tentu saja aku tahu. Tapi aku tidak akan membuka mulut kepada siapapun juga, asal kau membiarkan dia membalaskan dendam terhadap Pendekar Buta." "Tidak! Tidak boleh.....! Suhu, jangan suruh dia!" "Ha-ha-ha, dia sudah bersumpah, tak mungkin menjilat ludah sendiri, tak mung-kin keturunan jago Go-bi mengingkari Janji." "Teecu akan melarangnya!" teriak The Sun, kemarahannya" memuncak. "Aku akan memaksanya, mengingat-kan dia akan sumpahnya!" Hek Lojin bersikeras. "Kau..... kau jahat.....!" The Sun lupa diri dan menerjang kakek itu. Hek Lepn cepat menangkis, akan tetapi karena dia sudah amat tua, sudah hampir sembilan puluh tahun usianya, tangkisannya kurang kuat dan gerakannya kurang cepat. "Bukkk..... bukkk!" Dua kali dadanva terpukul oleh The Sun dan dia terguling roboh. "Ayahhh.....!'!" Siu Bi meloncat dan berlari menghampiri. Sebutan ayah tadi tercekik di tenggorokannya karena la teringat akan kata-kata Hek Lojin bahwa dia bukan anak The Sun! Akan tetapi pada saat itu ta tidak peduli dan menubruk Hek Lojin yang rebah terlentang. Kakek itu terengah-engah, memandang kepada Siu Bi dengan mata mendelik, lalu..... nyawanya melayang napasnya putus. la tewas dalam pelukan Siu Bi, akan tetapi matanya tetap mendelik memandang gadis itu. "Kong-kong.....!" Siu Bi menangis dan memeluki kakek itu yang mencintanya semenjak ia masih kecil. Di dekat telinga kakek yang sudah mati itu la berbisik perlahan, "Aku akan balaskan dendammu, Kek....." Bisikan campur isak ini tidak terdengar oleh The Sun yang berdiri seperti patung dengan muka pucat. Akan tetapi anehnya, kedua mata yang mendelik dari kakek itu tiba-tiba kini tertutup rapat setelah Siu Bi berbisik. Hal ini terlihat oleh Siu Bi, di bawah sinar bulan. la terharu dan menangis lagi, menggerung-gerung. The Sun menyesal bukan main, namun penyesalan yang sudah terlambat. Betapapun juga, hatinya lega karena rahasia tentang Siu Bi yang entah bagaimana telah diketahul oleh Hek Lojin itu, se-karang tertutup rapat-rapat. Sama sekali ;tidak menduga bahwa Siu Bi telah mendengarkan percakapan tadi! Baru The Sun tahu akan hal ini ketika pada malam hari setelah jenazah Hek Lojin dikubur, secara diam-diam Siu Bi telah minggat tanpa pamit, meninggalkan puncak Go-bi-san! Tentu saja hal ini membuat The Sun hancur hatinya dan lebih-lebih ibu Siu Bi amat berduka sehingga berkali-kali ia jatuh pingsan. The Sun menghibur isterinya dengan janji bahwa mereka juga akan turun gunung setelah masa berkabung habis, untuk mencari anak mereka yang tercinta itu. Suasana bahagia di puncak ini sekeuka berubah menjadi penuh kedukaan. Siapa kira, kehidupan yang serba bahagia itu sekaligus hancur berantakan. Menang begitulah keadaan hidup di dunia ini! * * * Kita tinggalkan dulu keluarga di puncak Go-bi-san yang sedang dicekam kedukaan itu dan marilah klta menengok Pendekar Buta, orang yang menjadi sebab timbulnya peristiwa menyedihkan di puncak Go-bi-san. Para pembaca cerita "Pendekar Buta" tentu tahu siapakah pendekar yang cacat ini, seorang tuna netra (buta) yang memiliki ilmu kepandai-an dahsyat sehingga orang sakti seperti Hek Lojin dapat dibuntungi lengan kirinya . Pendekar Buta adalah putera dari ketua Hoa-san-pai yang sekarang sudah sangat tua dan disebut Kwa Lojin. Adapun Pendekar Buta sendiri bernama Kwa Kun Hong. Seperti telah diceritakan dalam cerita "Pendekar Buta" yang ramai, setelah selesai pertempuran dan perang saudara antara Pangeran Kian Bun Ti dan pamannya, Raja Muda Yung Lo di mana Pendekar Buta membela Raja Muda Yung Lo sehingga mencapai kemenangan, Pendekar Buta lalu menikah dengan Kwee Hui Kauw, seorang gadis perkasa puteri Kwee-taijin yang semenjak kecil diculik oleh Ching-toanio dan dididik ilmu silat di Ching-coa-to (Pulau Ular Hijau). Setelah menikah, Kun Hong bersama isterinya mendiami puncak Liong-thouw-san, puncak gunung di mana dahulu dia menerima warisan ilmu dari seorang sakti bernama Bu Beng Cu, ditemani oleh seekor burung rajawali berbulu emas. Yang ikut ke Liong-thouw-san bersama suami isteri ini adalah seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang menjadi muridnya. Siapakah anak laki-laki ini? Dalam cerita "Pendekar Buta" sudah dituturkan dengan jelas bahwa anak laki-laki yang menjadi murid Kun Hong ini adalah Yo Wan atau biasa dipanggil A Wan. Dia anak keluarga petani sederhana, ayahnya tewas disiksa kaki tangan tuan tanah di dusunnya, sedangkan ibunya mati membunuh diri setelah membiarkan dirinya diperkosa oleh The Sun dalam usahanya menolong keselamatan Kun Hong yang ketika itu terluka di dalam rumahnya. Karena pertolongan yang mengorbankan kehormatan dan nyawa inilah maka Kun Hong merasa berhutang budi kepada ibu Yo Wan dan dia lalu membawa anak yatim piatu ini sebagai muridnya. Yo Wan seorang anak yang amat cerdik. Dengan tekun dia mempelajari semua ilmu yang diturunkan oleh Kun Hong kepadanya dan setiap hari anak ini tidak mau bersikap malas, Ia rajin sekali melayani segala keperluan gurunya dan ibu gurunya. Mencari kayu bakar, mengambil air dari sungai, membersihkan pondok, malah kelebihan waktu dia pergunakan untuk menanam sayur-mayur dan memeliharanya, juga segala keperlu-an Kun Hong dan isterinya jika mem-butuhkan sesuatu ke bawah gunung, dia-lah yang turun dari puncak dan pergi ke dusun-dusun. Pendeknya, Yo Wan amat rajin dan patuh sehingga tidaklah meng-herankan apabila Kun Hong dan isterinya Hui Kauw, amat mencinta anak itu. Dua tahun setelah menikah, Hui Kauw mengandung. Kun Hong yang amat mencinta isterinya, merasa khawatir. Dia sendiri seorang buta, sungguhpun dia ahii dalam hal pengobatan, namun belum pernah dia menolong wanita melahirkan dan tidak pernah pula dia mempelajari dalam kitab pengobatan. Tempat tinggal mereka di puncak Liong-thouw-san yang tersembunyi dan jauh dari tetangga. Bagaimana kalau sudah tiba saatnya isterinya melahirkan? "Sebaiknya kita pindah saja ke Hoa-san, isteriku," kata Kun Hong setelah isterinya mengandung tiga bulan lamanya. Hui Kauw mengerutkan alisnya yang kecil melengkung panjang dan hitam. Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju. Ia cukup maklum bahayanya hidup berdekatan dan tinggal bersama sanak keluarga. Mudah sekali terjadi bentrokan. Gedung besar orang lain kadang-kadang merupa-kan neraka, sebaliknya gubuk kecil nilik sendiri adalah sorga, apalagi di dekatnya ada suami yang tercinta. Namun, ia nak-lum pula bahwa suaminya mengusulkan hal ini karena mengingat akan kepenting-an dan keselamatannya. "Suamiku, perlukah kita pindah sejauh itu? Kurasa, kalau sudah sampai saatnya kita bisa minta bantuan seorang nenek dari dusun di bawah. la mencoba untuk membantah. Kun Hong memegang tangannya, mesra. "Hui Kauw, alangkah akan gelisah hati kita kalau saat itu tiba dan di sini tidak ada orang lain kecuali kau, aku" A Wan dan seorang nenek pembantu. Se-baliknya, hati kita akan besar dan te-nang, apalagi kau melahirkan di tengah-tengah keluargaku, keluarga besar Hoa-san-pai, di mana terdapat banyak paman dan bibi yang berpengalaman, juga dekat dengan orang tua. Selain itu, kita harus memikirkan juga pertumbuhan anak kita" kelak. Tentu kau tidak ingin anak kitas tumbuh besar di tempat sunyi seperti ini." Aku ingin anak kita hidup bahagia, gembira setiap hari dan disayang baoyak orang." Hui Kauw amat nnencinta suaminya, juga amat taat. Oleh karena itu, ia tidak mau membantah. Akan tetapi ketika teringat akan A Wan ia bertanya, "Bagaimana dengan A Wan?" "Tentu saja dia ikut! Mana bisa ting-||ga(lkari dia di sini seorang diri?" Di dalam hatinya, Hui Kauw mengkhawatirkan keadaan murid itu. la cukup mengenal watak A Wan setelah anak itu tinggai di situ selama dua tahun. Anak itu pendiam dan taat, akan tetapi mem-punyai watak yang amat halus. Belum tentu anak itu akan merasai kebahagiaan di Hoa-san-pai, karena merasa bahwa dia menumpang pada gurunya, sekarang guru-nya sendiri akan menumpang di tempat orang lain. "Apakah dia suka?" tanyanya ragu-ragu. "Ha-ha-ha, isteriku, kenapa tidak akan suka? Coba panggil dia ke sini." A Wan segera datang berlari ketika i mendengar suara guru dan ibu gurunya memanggil. Anak ini biarpun usianya baru delapan tahun lebih, namun tubun-nya tegap dan kuat, berkat kerja setiap hari di sawah ladang. la cekatan sekali, wajahnya lebar dan terang, matanya memiliki sinar mata yang sayu tapi kadang-kadang mengeluarkan sinar yang tajam. Dengan amat horrnat anak ini roenghadap. suhunya. "A Wan, kau bersiaplah. Kita akan pindah ke Hoa-san-pai, ke rumah kakek gurumu, ayahku yang menjadi ketua; A Hoa-san-pai," kata Kun Hong singkat. Berubah wajah A Wan dan hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Hui Kauw. "Bagaimana, A Wan? Kenapa kau diam saja?" Sedih hati A Wan. la merasa bahagia hidup di Liong-thouw-san. la merasa bahwa tempat itu adalah tempat tinggalnya dan dia amat sayang kepada tempat yang sunyi itu. la merasa bahagia dapat melayani kedua orang itu yang dia ang-gap sebagai pengganti orang tuanya, ba-hagia dapat belajar ilmu silat dari orang yang sejak dahulu dia anggap sebagai bintang penolongnya. Tapi sekarang, guru-nya mengajak dia pindah dan gurunya akan mondok di rumah orang laln! "Suhu..... tempat ini..... siapa yang akan mengurusnya? Kalau kita semua pergi..... tempat ini tentu akan rusak..,.." Suaranya agak gemetar Kun Hong menarik napas panjang. la pun tahu bahwa biarpun usianya masih kecil, namun A Wan sudah mempunyai pandangan yang jauh dan penuh pengerti-an, maka tak boleh dia diperlakukan sebagai anak kecil. "A Wan, kau harus tahu bahwa ibu gurumu membutuhkan bantuan sanak keluarga kalau adikmu lahir. Untuk sementara tempat ini kita tinggalkan, kelak kita tentu dapat datang menengok." Wajah A Wan berubah gembira. "Suhu, kalau begitu, biarlah teecu (murid) tinggal di sini merawat tempat ini. Kelak kalau Suhu dan Subo (Ibu Guru) kembali ke sini, tempat ini masih dalam keadaan baik. Pula, tanpa adanya teecu yang mengganggu perjalanan, Suhu dan Subo akan dapat melakukan perjalanan yang lebih cepat." Anak yang berpemandangan jauh, pikir Kun Hong kagum. Memang" dengan adanya A Wan, mereka berdua takkan dapat mempergunakan ilmu lari cepat tanpa menggendong anak itu. "Tapi, mungkin kami akan lama di sana, entah kapan dapat kembali kesini." katanya meragu. "Setahun dua tahun bukan apa-apa, Suhu. Teecu dapat menjaga diri sendiri dan merawat tempat ini. Sayur-mayur cukup, sebagian dapat teecu tukar gandum dan beras dengan penduduk di bawah. Kelak kalau Suhu dan Subo kembali membawa..... adik yang sudah berusia setahun lebih, wah, alangkah akan senang-nya.....!" Kun Hong adalah seorang yang suka mendengar kegagahan dan keberanian. Sikap muridnya ini benar-benar mengagumkan hatinya bukan sikap seorang anak kecil yang cengeng merengek-rengek. Biarlah dia digembleng oleh alam, me-rasakan hidup sendiri tanpa sandaran. Biarlah dia belajar hidup sendiri, karena hal ini akan memupuk rasa percaya ke-pada diri sendiri. Malah sebaliknya dia ingin melihat ketekunan muridnya itu, bagaimana nanti hasil latihan-latihannya selama dua tahun tanpa pengawasan. Bagaimana, isteriku, apakah kau setuju dengan permintaan A Wan untuk tinggal di sini?" la mengerti betapa isterinya amat sayang pula kepada A Wan maka tak mau dia melewati isterinya. "Kalau dia menghendakl demikian, kurasa baik kita setuju. Pula, memang sayang kalau tempat kita ini menjadi rusak. Kelak kita kembali ke sini dan tempat ini dalam keadaan baik. Aku setuju." Di dalam hatinya, Hui Kauw amat kasihan kepada A Wan, akan tetapi nyonya muda ini beranggapan bahwa kalau A Wan masih ditinggal di situ, sudah pasti suaminya kelak akan kembali ke Liong-thouw-san. Dan inilah yang ia inginkan! Kun Hong tertawa. "Baiklah, A Wan. Kau tinggal di sini dan kau harus melatih diri dengan jurus-jurus yang sudah kuajarkan kepadamu. Latihan samadhi juga harus kaulatih dengan tekun. Aku ingin mendengar tentang kemajuanmu beberapa tahun kemudian. Andaikata sudah lewat dua tahun aku tidak datang ke sini, dan kau merasa kangen, kau boleh sewaktu-waktu melakukan perjalanan ke Hoa-san-pai seorang diri menyusul kami." "Anak sekecil ini.....?" Hui Kauw mencela, kaget. Kun Hong tertawa, "Beberapa tahun lagi dia sudah berusia belasan tahun, dan biarpun masih kecil, apa artinya melaku-kan perjalanan dari sini ke Hoa-san bagi seorang murid kita? Ha-ha-ha, kau tentu akan berani bukan?" "Tentu saja, Suhu! Subo, harap jangan khawatir. Teecu dapat menjaga diri dan kalau teecu kangen dan Suhu berdua belum pulang, teecu akan menyusul ke Hoa-san!" Dernikianlah, setelah memilih hari baik, Kun Hong dan Hui Kauw meninggal-kan Liong-thouw-san menuju ke Hoa-san, meninggalkan Yo Wan yang mengan-tar guru dan ibu gurunya sampai ke kaki gunung. Beberapa kali Hu! Kauw menoleh dan sepasang mata nyonya muda yang cantik ini berlinang air mata ketika dia melihat dari jauh tubuh Yo Wan masih berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dengan kedua tangan di belakang, sesosok bayangan bocah yang biarpun masih kecil sudah membayangkan ke-teguhan hati yang luar biasa dan nyali yang besar. Sefelah suhu dan subonya lenyap dari pandang matanya, barulah A Wan merasa sunyi dan kosong rongga dadanya. Namun dia menekan perasaannya dan mendaki puncak Liong-thouw-san. Dahulu, puncak ini tak mungkin dapat dinaiki orang, apalagi orang biasa atau seorang anak kecil seperti A Wan. Akan tetapl, se-menjak Kun Hong dan isterinya ber-tempat tinggal di situ, suami isteri pen-dekar yang memiliki kesaktian ini telah membuat jalan menuju ke puncak. Bukan jaian biasa melainkan jalan yang juga amat sukar karena harus melalui dua ^buah jurang lebar dan amat dalam yang mereka pasangi jembatan berupa dua buah tali besar dan kuat. Untuk menyeberangi jembatan-jembatan istimewa di atas dua buah jurang lebar ini orang harus berjalan di atas dua utas tali ini tanpa pegangan! Hanya orang-orang yang memiliki ginkang dan nyali besar saja berani menyeberangi jembatan istimewa ini. Kemudian, setelah mendekati puncak, untuk mencapai dataran puncak itu jalan satu-satunya hanya memanjat sebuah tangga terbuat daripada tali pula, tinggi-nya seratus kaki dan amat terjal. Tentu saja memanjat tangga ini lebih mudah karena kedua tangan dapat berpegangan, akan tetapi juga membutuhkan nyali yang cukup besar di samping syaraf rnembaja. Namun, bagi Yo Wan semua ini bukan apa-apa lagi, sudah terbiasa dia oleh jembatan-jembatan dan tangga ini. Se-menjak berusia enam tahun dia sudah dapat mempergunakan alat-alat penyebesi" rangan itu. Biarpun baru berlatih silat dua tahun lamanya, namun berkat bimbingan dua orang yang memiliki kepandaian tinggi, Yo Wan sudah memperoleh kemajuan lumayan. G^rak-geriknya gesit, napasnya panjang, daya tahan tubuhnya luar biastf^ dan dia sudah kuat bersamadhi sampai setengah malam lamanya. Hebat dan luar biasa bagi seorang anak laki-liaki yang belum sembilan tahun usianya! Yo Wan memang seorang anak yang berhati teguh dan memiliki ketekadan hati yang besar. Memang tadinya dia merasa kesunyian, begitu dia tiba di pon-dok suhunya dan melihat betapa tempat itu kosong, sekosong hatinya, dia terduduk di atas bangku depan pondok dan termenung. Ketika matanya terasa panas oleh desakan air mata, dia menggigit bibirnya dan menggeleng-gelengkan ke-pala, melawan perasaannya sendiri. Oleh gerakan kepala ini, dua titik air mata yang tadinya menempel di bulu matanya, meluncur turun melalui pipi, terus ke ujung kanan kiri bibir. la menyecapnya. Rasa asin air matanya membuat dia sadar. "Heh, kenapa menangis? Cengeng! Sejak dahulu kau sudah yatim piatu, kau si jaka lola (anak laki-laki yatim piatu), hidup di . dunia seorang diri, mengapa bersedih hati ditinggal suhu dan subo? Ihhh, kalau subo melihatmu, kau tentu akan ditampar! A Wan tertawa kepada diri sendiri, tertawa bahagia karena ter-ingat dia betapa selama dia berada di sini, belum pernah dia dibentak Kun Hong atau ditampar Hui Kauw. Kedua orang itu amat baik kepadanya. Mereka orang-orang mulia, aku tidak boleh mengganggu mereka. Harus ku-pelihara baik-baik tempat ini, kelak ka-lau mereka kembali, tempat irii telah bersih dan terjaga! Setelah berpikir de-mikian, anak ini bangkit dan lari ber-loncatan ke ladangnya, mukanya sudah jernih kembali dan dia tertawa-tawa melihat burung-burung kaget beterbangan oleh loncatannya itu. Yo Wan selalu teringat akan nasihat suhunya. la tekun berlatlh ilmu silat. Karena gurunya lebih mementingkan da-sar ilmu silat, maka selama ini dia tidak banyak diajar ilmu pukulan, lebih di-utamakan pelajaran pernapasan, samadhi dan mengatur jalan darah untuk meng-himpun kemurnian hawa dalam tubuhnya. Juga ilmu meringankan tubuh diajarkan lebih dulu oleh subonya, karena hal ini amat perlu baginya untuk naik turun puncak. Sebelum turun gunung suhunya mengajarkan ilmu langkah yang terdiri daripada empat puluh satu langkah. Lang-kah-langkah ini merupakan perubahan-perubahan dalam kuda-kuda dan jika di-latih terus-menerus, selain dapat mem-pertinggi kegesitan dan memperkokoh kedudukan, juga dapat memperkuat tu-buh, terutama kedua kaki. Suhunya hanya memberi tahu 'batTwa"-langkah-langkah ini dapat dilatih terus-menerus sampai belasan tahun, makin terlatih makin baik dan kelak akan hebat kegunaannya. Kun Hong hanya rnemberi tahu bahwa langkah-langkah ini diberi nama Si-cap-it Sin-po (Empat puluh $atu Langkah Sakti). Tentu saja Yo Wan sama sekali tidak pernah mimpi bahwa langkah-langkah ini adalah langkah-langkah ajaib yang gerakan-gerakannya mencakup se-luruh inti sari daripada gerakan Umu silat, karena biarpun jurusnya hanya em-pat puluh satu, akan tetapi kalau dijalankan dan susunan jurusnya diubah-ubah, merupakan gerak jurus yang tak terhitung banyaknya! Dua tahun sudah Yo Wan hidup se-orang diri di puncak Liong-thouw-san. Tekun bekerja dan berlatih. Setiap hari dia mengharap-harapkan kedatangan suhu dan subonya, namun pengharapannya sia-sia belaka. Setelah lewat tiga tahun, belum juga kedua orang yang dikasihinya itu puiang. Ingin dia menyusul ke Hoa-san karena sudah amat kangen, akan tetapi dia takut kalau-kalau kedua orang itu akan menganggapnya kurang setia menanti. la menanti terus, empat tahun, lima tahun! Waktu berjalan amat pesatnya, tanpa dia rasakan, lima tahun sudah dia hidup menyendiri di tempat sunyi itu. Dan kedua orang yang dinanti-nantinya belum juga pulang! "Sudah amat lama aku menunggu, kenapa mereka belum juga pulang?" Yo Wan termenung duduk dl atas bangku depan pondok. Bukan bangku lima tahun yanR lalu. Sudah ada lima kali dia mengganti bangku itu dengan bangku baru buatannya sendiri. Sudah penuh tlang pondok itu dengan guratan-guratannya. Setiap bulan purnama dia tentu meng-gurat di tiang. Tadi dihitungnya guratan-guratannya itu, sudah lebih dari enam puluh gurat! "Besok aku menyusul ke Hoa-san," demikian dia mengambil keputusan ka-rena sudah tidak kuat menanggung rindu-nya lagi. Malam itu sibuk dia menambal pakaianya yang robek-robek. Selama lima tahun ini, dia dapat mencari ganti pakai-an ke dalam dusun di bawah gunung dengan jalan menukarkan hasil ladangnya yang berupa sayur-sayuran segar yang tak mungkin tumbuh di bawah puncak. Dasar watak Yo Wan polos, jujur dan tidak murka, dia hanya memilih pakaian sekedarnya saja, bersahaja asal kuat.^ Yang membuat dia kesal menanti lebih lama lagi, sesungguhnya adalah kalau dia teringat akan pelajaran ilmu silatnya. Enam puluh bulan lebih dia ditinggal gurunya, hanya ditinggali ilmu langkah yang sudah dia latih setiap hari sampai dia menjadi bosan. Padahal dia bercita-cita untuk mempelajari ilmu silat tinggi dari suhunya, karena dia masih ingat betul akan musuh besarnya, musuh besar yang menyebabkan kematian ibunya yang tercinta, The Sun! Muka orang ini masih selalu terbayang di depan matanya, dan dia mendengar dari gurunya bahwa The Sun memiliki kepandaian yang amat ting-gi. Sekarang dia hanya diberi pelajaran langkah-langkah yang aneh, bagaimana mungkin dia dapat membalas kematian ibunya pada musuh besar yang lihai itu kalau dia hanya pandai melangkah? la ingin menyusul untuk mohon diberi pela-jaran ilmu silat selanjutnya, untuk bekal mencari musuh besar yang telah me-nyebabkan kematian ibunya yang me-ngerikan itu. Masih terbayang di depan matanya betapa ketika dia masih kecil, dia melihat ibunya menggantung diri, dengan susah payah dia tolong, akan tetapi ibunya tak tertolong lagi. Masih bergema di telinganya akan pesan ibunya, agar supaya dia memenuhi dua buah permintaan ibunya, dua buah tugas yang selama hidupnya harus dia usahakan pe-laksanaannya, yaitu pertama membalas budi kebaikan Kwa Kun. Hohg Pendekar Buta, kedua membalas dendam kepada The Sun (baca cerita Penddcar Buta)! Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yo Wan sudah menutup pir -u de-pan pondok dan berjalan ke luar hc aman. Di punggungnya terdapat sebuah buntalan pakaian dan dia melangkah lebar aenuju ke jurang di mana terdapat tangga tali itu. Sebelum melangkahkan kaki ke tang-ga, dia memandang sekeliling seakan-akan merasa kasihan kepada punca^ yang akart ditinggalkan. Tiga batang pohon cemara di depan pondok itu kini sudah besar, dia yang menanam semenjak suhu dan subonya pergi. Tadinya dia ingin sekali melihat suhu dan subonya memuji dan girang melihat tiga batang pohon yang indah itu, bahkan dia sudah mem-beri "nama" pada tiga batang pohon itu, nama suhunya, nama subonya dan namanya sendiri! Setelah menarik napas partjang, Yo Wan lalu melangkah dan menuruni tangga tali dengan kecepatan yang amat luar biasa, seakan-akan dia melorot saja tan-pa melangkah turun. Setibanya di bawah, dia berlari-lari menuju ke jembatan per-tama yang melintas jurang lebar. Tiba-tiba dia mendengar suara aneh sekali, suara mendesis-desis keras bercampur aduk dengan suara melengking tinggi. Suara itu datangnya dari seberang jurang pertama. Cepat dia lalu meloncat ke atas tambang dan berlari-lari menyebe-rang. Melihat bocah tiga belas tahun ini menyeberang dan jalan di atas tambang, benar-benar membuat orang terheran-heran dan ngeri, jurang itu dalamnya tak dapat diukur lagi. Tambang itu sama sekali tak bergerak ketika dia berlari di atasnya, dan hebatnya, anak ini berlari seenaknya saja, sama sekali tidak melihat bawah lagi seakan-akan kedua kaki-nya sudah terlalu hafal dan dapat meng-injak dengan tepat. Setelah meloncat di atas tanah di seberang. Yo Wan dapat melihat apa yang menimbulkan suara aneh itu. Kira-nya dua orang laki-laki sedang bertempur dengan hebat dan aneh. Seorang di an-taranya, yang berdesis-desis, adalah se-orang laki-laki yang tinggi kurus dan kulitnya hitam, rambutnya yang keriting itu terbungkus sorban kuning, telinganya pakai anting-anting hitam, juga kedua pergelangan tangan ketika bergerak dan keluar dari lengan baju yang lebar, tam-pak memakai sepasang gelang hitam. Orang asing yang aneh sekali. Usianya kurang lebih lima puluh tahun. Tangan-nya memegang cambuk kecil panjang dan agakpya cambuk inilah yang menerbitkan suara mendesis-desis aneh itu ketika digerakkan berputar-putar di udara. Di depan orang bersorban ini tampak seorang kakek tua sekali, kakek yang agak bongkok, yang kadang-kadang ter-kekeh dan kadang-kadang mengeluarkan suara melengking tinggl rendah meng-getarkan lembah dan jurang. Kakek ini pun bergerak-gerak, tapi tidak bersenjata, melainkan tubuhnya yang bergerak-gerak dengan tangan menuding dan menampar ke depan. Yo Wan berdiri bengong. Biarpun dia murid seorang sakti seperti Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta, namun selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan orang bertanding. Apalagi kalau yang bertempur itu dua orang tingkat tinggi yang mempergunakan cara bertempur yang begini aneh, seperti dua orang ba-dut sedang berlagak di panggung saja. la masih menduga-duga, apakah yang dilakukan oleh dua orang itu, karena biarpun dia menduga mereka sedang bertempur, namun dia maslh ragu-ragu. Tiba-tiba pandang matanya kabur dan cepat dia , menutup telinganya yang terasa perih ketika lengking itu makin meninggi dan desis makin nyaring. Matanya dibuka lebar, namim tetap saja dia tidak dapat mengikuti gerakan mereka yang kini menjadi makin cepat. Beberapa menit kemudian, gerakan kedua orang aneh itu begitu cepatnya sehingga tubuh mereka lenyap dari pandangan mata Yo Wan yang hanya dapat melihat gulungan sinar yang berkelebatan. Tiba-tiba sinar itu seperti pecah, gulungan sinar lenyap dan dia melihat dua orang itu rebah telentang, terpisah antarasepuluh roeter. "eduanya terengah-engah dan terdengar mereka merintih perlahan. "Bhewakala, kau hebat....." Kakek tua itu berseru sambil terkekeh ketawa di antara rintihannya. "Sin-eng-cu (Garuda Sakti), kau tua-tua merica, makin tua makin kuat....." terdengar orang asing bersorban itu pun memuji dengan suara terengah-engah dan nada suaranya kaku dan lucu. Melihat ke dua orang itu tak dapat bangun kembali, Yo Wan mengerti bahwa keduanya terluka. la cepat berlari meng-hampiri, keluar dari tempat persembunyi-annya karena tadi dia menginta" dari , balik batu gunung yang besar. Tentu saja dia mengenal kakek itu. Sin-eng-cu Lui Bok, paman guru dari suhunya, yang dulu membawanya ke puncak Liong-thouw-san (baca Pendekar Buta) dan yang kemudian pergi merantau membawa kim-tiauw (rajawali emas) bersamanya. "Susiok-couw..... (Kikek Paman Guru)!" serunya sambil meloncat mendekati. Akan tetapi Sin-eng-cu Lui Bok sudah tak bergerak-gerak lagi, malah napasnya sudah empas empis, tinggal satu-satu. Yo Wan kaget dan bingung, diguncang-guncangnya tubuh kakek itu, namun tetap tak dapat menyadarkannya. langkah kagetnya ketika dia mengguncang-guncang ini, dia melihat muka kakek itu agak biru dan tubuh bagian depan, dari leher sampai ke perut, terluka dengan guratan memanjang yang menghancurkan pakaiannya. Selagi dia dalam bingung sekali, dia mendengar di belakangnya suara orang mengaduh-aduh. Cepat dia bangkit dan membalik. Dilihatnya orang itu pun mengerang kesakitan. Suaranya begitu mendatangkan iba, maka tanpa ragu-ragu lagi Yo Wan lalu menghampirinya, dan berlutut di dekatnya. Orang itu muka hitam, matanya lebar, dilihat dari jauh tadi amat menakutkan, aka" tetapi setelah dekat, sepasang mata yang agak biru itu ternyata mengandung sinar yang menyenangkan. Tanpa diminta, Yo Wan lalu membantu orang itu bangkit dan duduk. Terpaksa dia merangkul pundak orang asing ini karena begitu dilepaskan segera akan terguling kembali, begitu lemas dia. Orang asing itu mengedip-ngedipkan matanya, melirik ke arah tu-buh Sin-eng-cu, lalu memandang kepada Yo Wan. "Dia susiok-couwmu? 3adi kau ini murid Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta?" Suaranya amat lemah, napasnya terengah-engah, agak sukar bagi Yo Wan untuk dapat menangkap arti kata-kata yang kaku dan asing itu. Namun dia seorang bocah yang cerdik, maka dapat dia me-rangka! kata-kata itu menjadi kalimat yang berarti. Yo Wan mengangguk, dan menjawab lantang, "Betul Locianpwe (Orang Tua Gagah). Mengapa Locianpwe bertempur dengan susiok-couw? Dia terluka hebat, apakah Locianpwe terluka?" Sejenak orang asing itu memandang tajam. Yo Wan merasa betapa sinar ma-ta dari mata yang kebiruan itu seakan-akan menembus jantungnya dan men-jenguk isi hatinya. Kemudian suara orang' itu terdengar makin kaku dan agak keras, "Kau murid Kwa Kun Hong? KaU. melihat kami bertempur? Mengapa kau sekarang menolongku? Mengapa kau tidak segera menolong susiok-couwmu yang' pingsan itu?" Diberondongi pertanyaan-pertahyaan ini, Yo Wan tidak menjadi gugup, karena memang dia tidak mempunyai maksud hati yang bukan-bukan. Semua yang dia lakukan adalah suatu kewajaran, tidak dibuat-buat dan tidak mengandung mak-sud sesuatu kecuali menolong. Maka te-nang saja dia menjawab, "Sudah saya lihat keadaan susiok-couw, dia terluka dari leher ke perut, dia tidak bergerak lagi, saya tidak tahu bagaimana saya harus menolongnya. Karena Locianpwe saya lihat dapat bergerak dan bicara, maka saya membantu Locianpwe sehingga nanti Locianpwe dapat mernbantu saya, untuk menolbtig susiok-couw." Sepasang mata itu masih menyorotkatt sinar bengis. "Kau tadi melihat kami bertempur?" Yo Wan mengangguk, tangannya masih merangkul pundak orang asing itu dari belakang, menjaganya agar jangan roboh terlentang. "Jadi kau tahu bahwa aku adalah musuh susiok-couwmu, musuh gurumu?" Yo Wan menggeleng kepala, pandang matanya penuh kejujuran. "Kalau kami saling serang, tentu ber-arti kami saling bermusuhan. Kenapa kau tidak membantu susiok-couwmu, malah menolong aku? Hayo jawab, apa maksud-mu? Aku musuh susiok-couwmu, aku da-tang untuk memusuhi gurumu. Nah, kau mau apa?" Yo Wan mengerutkan kening. Orang asing ini kasar sekali, akan tetapi mung-kin kekasarannya itu karena bahasanya yang kaku. "Locianpwe, saya tidak tahu urusannya, bagaimana saya berani turut campur? Suhu selalu berpesan agar supaya saya menjauhkan diri daripada per-musuhan-permusuhan, agar supaya saya jangan lancang mencampuri urusan orang lain, dan agar saya selalu siap menolong siapa saja yang patut ditolong, tanpa memandang bulu, tanpa pamrih untuk' mendapat jasa. Saya lihat susiok-couw tak bergerak lagi, dan saya tidak tahu bagaimana harus menolongnya, maka saya segera membantu Locianpwe." Sinar mata yang mengeras sekarang menjadi lunak kembali. Kumis di atas bibir itu bergerak-gerak. "Wah, suhu-mu hebat! Kau patut menjadi muridnya. Mana dia suhumu? Mengapa sampai se-karang dia belum muncul?" "Suhu tidak berada di sini, Locianpwe. Sudah Uma tahun suhu pergi dari sini, ke Hoa-san. Yang berada di sini hanya saya seorang diri." Mata yang kebiruan itu melotot, wa-jah itu berubah agak pucat. "Celaka benar.....! Heee, Sin-eng-cu, celakai Kwa Kun Hong tidak berada di sini!!" Yo Wan menoleh dan melihat susiok-couwnya bergerak-gerak hendak bangkit, namun sukar sekali dan mengeluh pan-jang. "Maaf, Locianpwe, saya harus menolongnya." Orang asing itu mengangguk dan se-karang dia sudah bersila, kuat duduk sen-diri. Yo Wan melepaskan rangkulannya dan tergesa-gesa menghampiri Sin-eng-cu Lui Bok, cepat merangkul dan membangunkannya. Napas kakek ini terengah-engah dan dia terkekeh senang melihat Yo Wan. "Wah, kau kan bocah yang dulu itu? 'Kau masih di swi?, Siapa namamu, aku kipa lagi." "Teecu (murid) Yo Wan , Susiok-couw....." "Ha-ha-ha, kau terus menjadi murid Kun Hong? Selama tujuh tahun ini?" "Sin-eng-cu, kita akan mampus di sini. Pendekar Buta ternyata tidak berada di sini lagi." Sin-eng-cu Lui Bok menggerakkan alisnya yang sudah putih. "Apa??" la memandang Yo Wan. "Mana gurumu?" "Susiok-couw, suhu dan subo telah pergi semenjak lima tahun yang lalu, pergi ke Hoa-san meninggalkan teecu seorang diri di sini. Tadi teecu sedang turun dari puncak untuk menyusul karena sudah terlalu lama suhu dan subo pergi." "Lima tahun? Wah-wah, guru macam apa dia itu? Eh, Yo Wan, jadi kau menjadi muridnya hanya untuk dua tahun saja? Ha-ha-ha, kutanggung kau belum becus apa-apa. Murid Pendekar Buta yang sudah belajar tujuh tahur belum becus apa-apa. Ha-ha-ha, bukar main" Orang asing itu mencela dan mengejek. Namun Sin-eng-cu tidak mempedulikannya. "Yo Wan, apakah suhumu pernah mengajar ilmu pengobatan kepadamu Selama dua tahun itu?" Yo Wan menggeleng kepalanya dan lagi-lagi orang asing itu yang mengeluar-kan suara mengejek, "Sin-eng-cu, kau sudah terlalu tua, maka menjadi pikun. Lima tahun yang lalu anak ini paling-paling baru berusia delapan tahun. Dari usia enam sampai delapan tahun, mana bisa belajar ilmu pengobatan? He, tua bangka, umurmu hampir dua kali umurku. Apakah kau takut mampus? Tak usah takut, ada aku yang akan mehemanimu ke alam halus" Akan tetapi Sin-eng-cu sudah bersila dan diam saja, kakek ini sudah bersama-dhi untuk menyalurkan hawa sakti di dalam tubuh, mengobati lukanya. Dalam hal ini Yo Wan mengerti maka :ia pun lalu mundur dan membiarkan kakek itu tanpa berani menanggungnya. Ketika dia menoleh, orang asing yang tadinya bicara sambil bergurau itu pun sudah meramkan mata bersamadhi. Yo Wan pernah mendengar keterangan Suhunya bahwa dengan hawa murni dalam tubuh yang sudah terlatih dengan samadhi, orang tidak hanya dapat memperkuat itubuh, namun juga dapat mencegah atau mengobati luka-luka sebelah dalam, maka dia maklum bahwa dua orang aneh ini sedang mengobati luka masing-masing, maka dia pun lalu duduk bersila, me-nanti dengan sabar. Para pembaca cerita "Pendekar Buta" ! tentu mengenal dua orang ini. Dua orang tokoh besar yang sakti. Sin-eng-cu Lui Bok adalah seorang aneh yang suka merantau, dia adalah sute (adik seperguruan) Idari Bu Beng Cu, mendiang guru Kwa .Kun Hong. Tujuh tahun yang lalu dia Ifneninggalkan puncak Liong-thouw-san ini, pergi merantau dengan burung rajawali emas menuju ke utara. Kakek aneh ini merantau ke bagian paling utara dari dunia, menjelajah daerah-daerah salju dan di tempat itulah burung rajawali emas yang sudah amat tua itu menemui kematiannya, tidak kuat menahan serangan salju yang dingin sekali. Ketika kakek ini kembali ke Liong-thouw-san, di tempat ini dia berjumpa dengan Bhewakala. Orang asing ini ada-lah seorang pendeta yang sakti pula, tokoh dari barat, seorang pertapa di puncak Anapurna di Pegunungan Hima-laya. Dia adalah seorang pendeta ber-bangsa Nepal yang banyak rneiakukan perantauan di Tiongkok. Tujuh tahun yang lalu pernah dia bertanding dengan Kwa Kun Hong dan dikalahkan. Akan tetapi karena melihat sifat-sifat baik dari pendeta ini, Kun Hong tidak mem-bunuhnya dan Bhewakala yang amat ka-gum terhadap Kun Hong ini berjarus akan belajar lagi dan kelak mencari Kun Hong untuk diajak mengadu ilmu. Keduanya adalah orang-orang sakti yang berwatak aneh. Begitu bertemu, mereka tidak mau saling mengalah dan keduanya setuju untuk mengadu ilmu disitu. Mereka adalah orang-orang yang selain sakti, juga mempunyai pribadi yang baik. Tentu saja mereka tidak ber-maksud mengadu ilmu dengan taruhan nyawa. Akan tetapi setelah bertempur dengan hebat dari tengah malam sampai pagi, belum juga ada yang kalah atau menang. Akhirnya mereka setuju untuk mengeluarkan senjata dan menggunakan pukulan-pukulan yang dapat mendatang-kan luka hebat. "Takut apa dengan luka hebat?" kata Bhewakala ketika Sin-eng-cu menolak. "Bukankah PendekarButa berada di sini? Kalau seorang di antara kita terluka, dia pasti akan dapat menyembuhkan." Memang, di samping kepandaiannya yang amat tinggi, Kwa Kun Hong Si Pendekar Buta juga amat terkenal akan kepandai-annya mengobati. Dengan jaminan inilah Sin-eng-cu menerima tantangan Bhewa-kala dan bertempurlah mereka dengan lebih hebat lagi karena kini Bhewakala menggunakan cambuknya yang beracun sedangkan Sin-eng-cu mempergukan pu-kulan-pukulan maut. Dan seperti telah diketahui akibatnya, Sin-eng-cu terluka oleh cambuk sebaliknya Bhewakala juga terkena pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali. Keduanya "ebah, namun tidak putus asa karena rnereka yakin bahwa Kun Hong akan dapat neng-obatr mereka. Dan mereka meraso lega di samping penasaran, bahwa keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang! Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ! Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masing-masing cukup maklurn bahwa luka yang diabitatkan oleh pukulan masing-masing itu tak mungkin dapat diobati kalau tidak oleh Kuri Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan. Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk menjaga agar luka itu ti-dak menjalar lebih hebat, setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam. Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu. Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti. Tiba-tiba awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin. Pakaian Yo Wan basah semua, juga pakaian dan tu-buh dua orang aneh itu. Namun, Bhewa-kala dan Sin-eng-cu tetap duduk bersila seperti patung, tidak bergerak-gerak. Berkali-kali Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orahg itu sudah men-jadi mayat, pikirnya. Akan tetapi tiap kali dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi. Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun sudah terusir habis, dua orang itu membuka mata dan menarik napas panjang. Malah keduanya saling pandang. "Bagaimana, Sin-eng-cu?" Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar. "Hebat pukulan cambukmu, Bhewa-kala. Racun dapat kuhalau atau setidak-nya kucegah untuk menjalar, akan tetapi-pukulanmu merusak pusat. Karena Kun Hong tidak berada di sini, tamatlah su-dah riwayatku sebagai seorang ahli silat. Tiap kali aku mengerahkan Iweekang untuk mengeluarkan tenaga, pusarku ter-pukul dan kalau kupaksa, tentu aku akan mampus. Kau hebat! Dan bagaimana denganmu?" Bhewakala menggelehg kepala. "Kau pun luar biasa. Pukulanmu meremukkan tulang iga. Hal ini masih tidak mengapa, akan tetapi menggetarkan pusat pengen-dalikan tenaga Kundalini. Karena itu, tenagaku musnah dan mungkin akan da-pat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa artinya bagi seorang seperti aku?" Kini keduanya merasa menyesal, na-mun sudah terlambat. Ketika rnereka menoleh dan melihat bahwa Yo Wan nnasih bersila tak jauh dari sltu, mereka tercengang. "Kau masih berada di sini?" Sin-eng-cu bertanya kaget. Yo Wan mengangguk dan menghampiri kakek itu. "Ha-ha-ha, Sin-eng-cu, bocah ini hebatl Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar Buta. Ha-ha-ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, menyia-nyiakan anak orang begini rupa. Sin-eng-cu, kau jrnenjadi saksi, selama hidup aku tidak suka menerima murid, akan tetapi kali ani aku ingin sekali meninggalkan kepan-tdaianku kepada anak mi sebelum akin 'mampus." Sin-eng-cu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih kepada Bhe-wakala Locianpwe, untungmu baik sekali." Yo Wan cepat berlutut di depan Bhe-wakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap, "Saya menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mu-lia dan kasih sayang Locianpwe kepada saya, akan tetapi saya tidak berani nrie-nerima menjadi murid Locianpwe, karena saya adalah murid suhu. Bagaimana saya berani mengangkat guru lain tanpa perkenan suhu?" "Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, adaJ taku di sini yang menjadi saksi!" kata Sin-eng-cu Lui Bok. "Ha-ha-ha, anak baik, anak baik. ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak murkei dan tamak! Eh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?" Yo Wan menggigit bibir, mafanya di-meramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata. Pertanyaan yang tiba-tiba dan merupakan ujung pedang yang tnenusuk ulu hatinya. Sampai lama dia tidak tnenjawab, kemudian dia membuka mata dan berkata periahan, "Saya yatim piatu, Locianpwe...." Kedua orang tua ittl saling pandang, diam tak bersuara. Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit getir, perasaan mereka sudah kebal. Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di tempat sunyi itu" bergulang-gulung dengan mega, tak ber-ayah ibu pula, benar-benar mereka nne-rasa kasihan "Yo Wan, aku pun tldak bermaksud mengambil murid kepadamu, hanya mgin meninggalkan atau mewariskan kepandai-anku saja. Gurumu tentu takkan rnarah." "Mohon maaf sebesarnya, Locianpwe, Saya cukup maklum bahwa Locianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya memilikinya. Akan tetapi, tanpa perkenan suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah tuan penolong saya dan mendiang ibu saya, suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Locianpwe maklum....." suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya tergantung pada bulu matanya. Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap air mata itu. Tiba-tiba Sin-eng-cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata, "He! Bhewakala pen-deta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana bisa dibandingkan dengan kau yang biar-pun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat, kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu. Ingat, aku tua bangka belum kalah!" "Huh, tua bangka tak tahu diri. Kau-kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir untuk men-cari penentuan!" Bhewakala bangki ber-diri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba men-jadi bongkok dan dia pringisan, menahan sakit. juga Sin-eng-cu tertatih-tatih bang-kit berdiri, namun dia juga tidak bisa berdiri tegak, kedua kakinya meriggigij seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi tubuh bawahnya. Yo Wan bingung dan gugup sekali. "Susiok-couw...... Locianpwe...... ji-wi (Kalian) sudah terluka hebat, bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap sudahi pertempuran ini.....!" Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai. "Ha-ha-ha, cucuku. Orang-orang ma-cam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya kurang, malah su-dah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tak mungkin dapat bertempur lagi, akan tetapi kami belum dapat menentu-kan siapa lebih unggul. He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu ilmu?" "Boleh!" jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan. "Kalau belum ada yang kalah menang, tentu penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan." "Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!" "Majulah kalau kau masih kuat Wte"" langkah!" tantang Bhewakala. "Ho-ho-ho, sombongnya si pehdeta koplok! Apa kaukira aku tidak tahu bah-wa kau pun tidak sanggup maju selang-kah pun? Ha-ha-ha, tertiup angin pun kau akan roboh. Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan. Ada Yo Wan di sini, apa gunanya?" Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedlp. "Ha-ha-ha, kau benar, tua bangkotan. Ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu." "Yo Wan, cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid pendeta ko-plok ini! Kalau kau tadi mau menerima-nya, aku yang tidak sudi, tidak mem-perbolehkan. Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua takkan dapat mati meram." Yo Wan cepat berlutut di depan kakek itu. "Susiok-couw, tak usah diperin-tah, teecu fentu bersedia menolong 7i-wi. Katakanlah, apa yang harus teecy lakukan?" Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-eng-cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling membe.ri- isyarat dengan kedip-an mata. "Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak. Sanggupkah kau?" "Akan teecu coba." Ia menghampiri Sin-eng-cu dan berkata, "Maaf, teecu akan menggendong Susiok-couw." Anak ini membungkuk di depan Sin-eng-cu, membelakanginya. Sin-eng-cu tidak sungkan-sungkan pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya dan anak ini sendiri merasa heran, pada-hal tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong kakek itu. la terkejut dan diam-diam merasa girang sekali ser-ta memuji kehebatan Susiok-couw ini, karena dia merasa yakin bahwa kakeknya ini tentu mempergunakan ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat tubuhnya menjadi demikian ringannya! Dengan langkah lebar dan gerakan cepat dia lalu menyeberangi jurang melalui dua tam-bang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak. "Harap Susiok-couw beristirahat di sini lebih dulu, teecu akan menggendong Bhewakala Locianpwe ke sini." "Yo Wan, apakah suhumu pernah me-ngajar Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Raja-wali Emas) kepadamu?" tiba-tiba kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pon-dok itu. Yo Wan berhenti, membalikkan •tubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala digelengkan. Pertanyaan itu tak ada artinya bagi diri-nya, akan tetapi mengingatkan dia akan burung rajawali emas yang dahulu pergi bersama kakek ini, maka dia cepat bertanya, "Susiok-couw, mengapakah kim-tiauw (rajawali emas) tidak ikut pulang ber-sama Susiok-couw?" "la sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di utara, dia telah mati dan kukubur dalam tumpukan salju." Yo Wan merasa menyesal sekaii se-hingga untuk semenit dia diam saja ter-menung. Kemudian dla teringat akan tugasnya. "Teecu pergi dulu, hendak men-jemput Bhewakala Locianpwe." "Pergilah, tetapi kau harus waspada, siapa tahu pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan membunuhmu, ha-ha-ha!" Yo Wah terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menun oi puncak itu dan menyeberangi jurang per-tama. Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila. Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo Wan. "Kau sudah kembali?" Yo Wan mengangguk, lalu membela-kangi pendeta itu sambil berjongkok. "Harap Locianpwe suka membonceng di punggung, tapi saya harap Locianpwe sudi mempergunakan kepandaian ginkang seperti Susiok-couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggen-dong Locianpwe." Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya. Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia men-|adi girang dan kagum. Kiranya pendeta ini pun amat sakti, ginkangnya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi daripada susiok-couwnya juga terasa ringan, hanya sedikit lebih berat daripada tubuh kakek tadi. Ia mulai me-langkah maju setengah berlari ke depan. "Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kaukenal?" tiba-tiba pendeta Nepal itu bertanya. "Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat Siapa dia, hanya harusdilihat apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya. Locian-pwe terluka, perlu beristirahat, dan saya dapat membawa Locianpwe ke puncak untuk beristirahat di pondok kediaman suhu, kenapa saya tidak mau menolone Locianpwe?" Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat be-tapa bocah ini dapat menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika men.! jawab pertanyaannya, napasnya tidak memburu, kelihatan enak saja. Ketika oia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut. Bocah itu menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, kadane-kadang berlari di atas tumit, kadangA" kadang dengan kakl miring! "He, kau menggunakan langkah apa ini?" tak tertahan lag! Bhewakala ber-tanya nyaring. Yo Wan menjadi merah mukanya. Karena seJama iima tahun itu siang malam ,dia- berlatih langkah-langkah Si-cap-it Sin-po, maka kalau dia berlari, tanpa dia sengaja kedua kakinya melakukan gerak langkah-langkah itu secara oto-matis! "Bukan apa-apa, Locianpwe, saya lari biasa," jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa. Seperti juga dengan susiok-couwnya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi pendeta Nepal ini tidak mau. "Turunkan saja aku di luar sini, aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat hebat dan indah ini." Yo Wan menurunkan pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewa-kala duduk bersila di situ dengan wajah berseri gembira. "Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!" terdengar teriakan Sin-eng-cu dari dalam pondok. Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian kakek tua itu sudah digendongnya keluar. Sin-eng-cu minta diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya. la pun bersila diatas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala. "Sin-eng-cu, cucu muridmu inl benar-benar membuat aku gembira sekali!" kata Bhewakala. ,, ; "Betapa tidak? Kalau tidak h6bal;tlia bukan cucu muridku!" jawab Sin-eng-cu dengan nada suara bangga. Yo Wan menjadi heran dan merasa malu. Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biarpun sudah terluka hebat masih mampu mengerahkan ginkang sehingga tubuh mereka demikian ringannya ketika dia membawa mereka mendaki tangga tali tadi. Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat? Anak ini sarna sekali tidak tahu bahwa dua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmil untuk membuat tubuh mereka ringan. Hal ini tidak mungkin, apalagi mereka terluka hebat sehingga tak mampu memper-gunakan ilmu-ilmu mereka yang ber-hubungan dengan kekuatan di dalam tu-buh. Yang membuat dia merasa ringan ketika menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan yang terkandung dalam tubuhnya sendiri. la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan kegesitan, di samping ini dia pun dengan amat tekun berlatih samadhi dan pernapasan. Hawa murni di dalam tubuhnya sudah terkum-pul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar luar blasa yang membuat dia dapat menggendong kakek-kakek itu secara mudah! "Yo Wan, kau tadi berjanjf hendak menolong kami dua orang-orang tua. Apakah kau betul-betul suka menolong?" tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah. "Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai ter-dapat keputusan siapa yang lebih unggul." Yo Wan membungkuk, "Susiok-couw, teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi teecu seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?" "Mudah saja asal kau mau menolong. He, Bhewakala pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat buah kamar cukup untuk kita seorang sekamar. Kita lanjutkan adu ilmu. Kau tinggallah di kamar kita, aku di kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain. Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Beri-tahukan jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas me nyerang dengan jurus istimewa. Dua jurus itu kuberitahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya kepadamu. Kau harus dapat memecahkannya dan boleh balas meniyerang. Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus mengakui keunggulan lawan. Bagaimana?" "Setuju! Itulah yang kukehendaki. Hayo mulai sekarang juga!" "Yo Wan, kau mendengar perjanjlan kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong, hanya menjadi perantara be-gitu?" Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun. Apalagi dia kurang pengalaman, semenjak kecil berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi kelihaian otak dua orang sakti ini? Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggul-an dalam ilmu silat, juga mereka ingin sekali menurunkan kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah me-nalukkan hati dan cinta kasih mereka itu, Yo Wan menganggap mereka berdua ini kakek-kakek yang lucu dan aneh. Masa ada orang melanjutkan adu ilmu seperti itu? Seperti main-main saja. Ke-duanya sudah terluka masjh tidak mau terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya. "Kalau kau kebera-tan pun tidak apa," sambung Sin-eng-cu, "kami bisa merangkak turun saling menghampiri, kemudian saling jcekik sampai mampus di sini!" sambil berkata demikian, Sin-eng-cu mengedipkan mata kepada Bhewakala. "Jangan kira kau akan dapat men-cekik leherku, Sin-eng-cu tua bangka bangkotan. Lebih dulu jari-jariku akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong? Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan mengedipkan mata pula. "Jangan.....! Harap ji-wi jangan ber-kelahi terus. Baiklah, saya akan mentaati permintaan ji-wi, menjadi peran-tara. Akan tetapi saya harap ji-wi betul-betul menghentikan adu ilmu ini kalau seorang di antara ji-wi ada yang tidate sanggup memecahkan sebuah jurus. Se-karang harap ji-wi sudi menanti sebentar, saya hendak menyediakan makanan." Tanpa menanti jawaban, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur dan ubi kentang. Pandai dia memasak setelah berlatih lima tahun selama ini dan di situ tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari penduduk dusun dengan hasil ladangnya. Di luar tahu Yo Wan, dua orang ka-kek hu berunding. Karena mereka amat suka kepada Yo Wan, dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacad akibat pertandingan semalam, agak-nya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada. di Situ, maka mereka mengambil keputusan Untuk menurunkan ilmu-ilmu mereka yang paling iihai kepada Yo Wan. "Jangan kau terlalu bernafsu me-tobohkan aku," kata Sin-eng-cu, "Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang pernah kita mainkan malam tadi sehingga ma-sing-masing tentu sudah mengenalnya dan dapat memecahkannya. Setelah itu, baru-iah kita bertanding betul-betul, mengeluarkan jurus-jurus baru yang harus dapat dipecahkan." Bhewakala menyetujui usul kakek bekas lawannya ini. Setelah masakan sayur-mayur sudah matang dan dihidang-'kan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap. Kemudian dua 'orang sakti itu minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan yang aneh ini. Mula-mula dia harus menghafal dan ^menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala dan oleh karena jurus ini harus dipergunakan untuk mt-nyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya dengan baik. Pada hari-hari pertama, amatlah sukar bagi anak ini untuk menghafal dan mainkan jurus-jurus itu, karena jurus yang di-turunkan itu adalah jurus ilmu silat ting-kat tinggi yang sukarnya bukan main. Andaikata dia belum dlberi dasar Ilmu Si-cap-it Sin-po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung inti sari daripada semua jenis gerak langkah da-lam persilatan, agaknya dia tidak mung-kin mampu melakukan gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini. 3u-rus pertama yang diturunkan Bhewakala, baru dapat dia lakukan setelah dia latih selama dua minggu! Memang mengheran-kan bagl yang tidak tahu, akan tetapi kalau diingat syarat-syaratnya, memang berat. Dalam setiap gerak dalam jurus ini, imbangan tubuh harus tepat" bahkan keluar masuknya napas juga harus disesuaikan dengan setiap gerak! Biarpun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, namun mengingat sukarnya jurus ini, dia mengira bahwa Sin-eng-cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya. 3ari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata diteruskan dengan siku kanan menghan-tam jalan darah di bawah telinga, di-barengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok anggauta kelamin kemudian dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak ter-akhir. Sebuah jurus yang "berisi" iima buah gerak serangan berbahaya! Bhewa-kala menamakan jurus ini Ngo-houw-lauw-yo (Lima Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus daripada ilinu silat ciptaan-nya yang paling lihai ketika dia bertapa di Gunung Himalaya, yaitu Umu silat yang dinamainya Ngo-sin-hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti). Akan tetapl alangkah herannya ketika Sin-eng-cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan kakek ini dengan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha-ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan dl depanku? Wah, terlalu gam-pang untuk memecahkannya!" Yo Wan hanya memandang dengan kagum dan diam-diam dia pun girang karena ternyata susiok-couwnya ini tidak kalah lihainya oleh Bhewakala. Sudah tentu saja dalam adu Umu yang luar biasa ini se-dikit banyak dia berfihak kepada Sin-eng-cu dan mengharapkan kemenangan bagi kakek ini, karena betapapun juga kakek ini adalah paman guru daripada suhunya. "Awas, dengarkan dan lihat baik-balk gerak tanganku. Sekaligus aku akan pa-tahkan daya serang jurus cakar bebek ini." Dengan gerak tangan dan keterang-an yang lambat dan jelas Sin-eng-cu rnengajarkan jurusnya. "Menghadapi serangan seorang beriimu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan dan makin tersernbunyi gerak pancingan ini lebih balfc. Gerak pertama menyerang anggauta tubuh bagian atas jangan dihadapi dengan perhatian sepenuh-nya, melainkan harus dielakkan sambil tnenanti munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti. Serangan tangan kanan ke arah mata dan leher, kita ha-dapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata dan serangan siku kanan lewat di atas kepala. Serangan pukul-an tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan apabila dia berani nnenggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah sambungan lutut. Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-han-pai-hud (Kakek Menyembah Buddha)." Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apalagi karena segera di-susul jurus ke dua yang merupakan se-rangan balasan dari Sin-eng-cu, yaitu jurus yang disebut Llong-thouw-coan-po (Kepala Naga Terjang Ombak). Dua buah jurus ini adalah jurus-jurus dari' ilmu silat ciptaan kakek ini yang dia beri nama Liong-thouw-kun (nmu Silat KepaJa Naga) atau ilmu siiat darl Lione-thouw-san tempat dia bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruan-nya, Bu Beng Cu. Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari Ia bangga sekali terhadap kakek itu dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi LIong-thouw-coan-po. Eh, kembali dia tercengang dan kecewa karena pendeta Nepal ini terkekeh-kekeh. memandang rendah sekali jurus serangan balasan Sin-eng-cu ini. "Uwah-hah-hahr-tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini bisa menggertak aku. Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan juru" seranganku ke dua, dia pasti akan mat! kutu!" Kakek pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi. Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua ganti-ber-eanti. Mula-mula memang setiap jurus harus dia pelajari sampai hafal baru dapat dia mainkan setelah tekun mem-pelajarinya sampai beberapa hari, apalagi makin lama jurus-jurus yang dikeluarkan dua orang sakti itu makin sukar. Akan tetapi setelah lewat tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu sehari saja! Yo Wan tidak hanya harus menghaial dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua orang sakti itu, akan tetapi karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima la-tihan siulian (samadhi), pernapasan dan cara menghimpun tenaga dalam tubuh. "Tanpa mempelajari Iweekang danku, tak mungkin kaumainkan jurus ini," de-mikian kata Bhewakala dan karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo Wan tidak dapat mem-bantah dan mempelajari Iweekang yang aneh dari kakek Nepal ini. Demikian pula, dengan alasan yang sama, Sin-eng-cu menurunkan latihan Iweekang yang lain dan untuk latihan ini Yo Wan , ieng-alaml kelancaran karena Iweekang dari kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari suhunya. Tanpa terasa lagi, tiga tahun telah lewat! Ngo-sin-hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari Bhewakala yang berjumlah linna puluh jurus itu tela;, dia mainkan semua. Demikian pula Liong-thouw-kun darl Sin-eng-cu Lui Bok yang berjumlah empat puluh delapan jurus Bukan ini saja, dengan alasan bahwa Umu pukufan tangan kosong tak dapat menen-tukan kemenangan. Bhewakala menurun-kan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang telah dia ajarkan pula. Karena ilmu pedang ini pun berdasar pada Ngo-sin-hoan-kun, maka tidak sukar bag! Yo Wan untuk menghafal dan me-mainkannya. Sebagai imbangannya, Sin-eng-cu juga menurunkan ilmu pedangnya. Pada bulan ke dua dari tahun ketiga, Sin-eng-cu yang keadaannya sudah amat payah saking tuanya dan juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya amat dirahasiakan. "Yo Wan..... Bhewakala hebat me-mang. Tapi coba kauperlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah. Jurus itu di-sebut Pek-hong-ci-tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang tak pernah kupergunakan dalam pertan-dingan karena amat ganas. Coba..... ban-tu aku berdiri, jurus ini harus kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya. Ke sinikah pedangmu....." Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, pedang dari kayu cendana yang sengaja dibuat untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu kakek yang sudah tua ren-ta itu bangkit berdiri. Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu. Sudah sering kali selama tiga tahun itu dia membujuk-bujuk mereka untuk meng-hentikan adu ilmu, namun sia-sia belaka, dan selain itu, dia mulai merasa senang sekali dengan pelajaran jurus-jurus itu. "Nah, kaulihat baik-baik.....'." Kakek itu menggerakkan pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya .mencengkeram dari atas. Memang gerak-an yang amat hebat dan dahsyat. Bahkan kakek yang sudah kehabisan tenaga itu, ketika mainkan jurus iru, kelihatan me-nyeramkan. Terdengar suara bercuitan dari pedang kayu dan tangan kirinya" kemudian..... kakek itu roboh terguling. "Susiok-couw.....!" Yo Wan cepat ne-nyambar tubuh kakek itu dan membantu-nya duduk sambll menempelkan telapak tangannya pada punggung kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai dengan ajaran Sin-eng-cu. "Sudah..... eh, balk sudah..... uh-uh-uh..... tua bangka tak becus aku ini..... Yo Wan, sudahkah kau dapat mengerti jurus tadl?" Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak kakek ini, seperti biasa se-telah kakek itu duduk bersila, dia meng-ambil pedang kayu dan mainkan jurus tadi. Suara bercuitan lebih nyaring ter-dengar, dan kakek itu berseru gembira, tapi napasnya terengah-engah. "Bagus, bagus! Nah, kalau sekali ini pendeta koplok itu dapat memecahkan jurusku Pek-hong-ci-kiam, dia benar-benar patut kaupuja sebagai gurumu!" Dengan napas terengah-engah kakek itu lalu melambaikan tangan, mengusir Yo Wan keluar dari kamarnya untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya. Dengan hati sedih karena ketika me-raba punggung tadi dia tahu bahwa kakek itu keadaannya amat payah, Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala. Keadaan pendeta Ne-pa! ini tidak lebih baik daripada Sin-eng-cu Lui Bok. la pun amat payah ka-rena selain kekuatan tubuhnya makin mupdur akibat iuka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo Wan. Ketika Yo ' Wan memasuki kamarnya dan mainkan ' jurus Pek-hong-ci-tiam, dia terkejut sekali dan sampai lama dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya. Kemudian mengeluh. "Hebat..... Sin-eng-cu Lui Bok henidak mengadu nyawa...." Akan tetapi selanjutnya dia termenung, kedua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara perlahan seorang diri, menge-rutkan kening dan akhirnya menggeleng kepala seakan-akan pemecahannya tidak tepat. la memberi isyarat dengan tangan supaya Yo Wan keluar dari kamarnya, pemuda ini lalu mengundurkan dir dan masuk ke kamar sendiri karena waku itu malam sudah agak larut. Menjelang fajar, Yo Wan kaget men-dengar suara Bhewakala memanggij na-manya. la bangun dan cepat menuju ke kamar pendeta itu. Pintu kamarnya ter-buka dan pendeta itu duduk di atas pem-baringan. Cepat dia maju menghampiri. "Yo Wan, jurus Sin-eng-cu ini hebat! Tak dapat aku menangkis atau mengelak-nya....." katanya dengan suara lesu. Diam-diam Yo Wan menjadi girang. Akhirnya Sin-eng-cu yang menang, se-perti yang dia harapkan. "Kalau begitu, Locianpwe menyerah....." katanya per-lahan. Mata yang lebar itu melotot. "Siapa menyerah? Karena Sin-eng-cu hendak mengadu nyawa, apa kaukira aku tidak berani? jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau kuhindarkan, akan tetapi dapat kuhadapi dengan jurusku yang isti-mewa pula. Mungkin aku mati oleh jurus-nya, akan tetapi dia pun pasti mampus kalau melanjutkan serangannya. Kau lihat baik-baik!" Bhewakala lalu mengajarnya sebuah jurus sebagai imbangan daripada Pek-hong-ci-tiam. Kemudian pendeta itu me-nyuruh Yo Wan mainkan cambuk dengan jurus itu. Hebat bukan main jurus ini. Cambuk melingkar-lingkar di atas udara kemudian melejit ke empat penjuru de-ngan suara nyaring sekali. "Tar-tar-tar-tar-tar!" Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke arah pusar lawan. "Cukup! Lekas kauperlihatkan kepada Sin-eng-cu," kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan gerakan Yo Wan. Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala memasuki kamar Sin-eng-cu. Waktu itu matahari telah naik agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar kakek ini masih menyala. "Susiok-couw, Locianpwe Bhewakata tidak dapat memecahkan Pek-hong-ci-tiam, akan tetapi menghadapi jurus IBM dengan jurus penyerangan pula, seperti ini," kata Yo Wan sambil mainkan cam-buk yang memang sengaja dibawanya ke daiam kamar itu. Cambuknya melejit-i lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu. Akan tetapi setelah dia berhenti main-kan jurus ini, Sin-eng-cu tidak memberi komentar apa-apa. Kakek itu tetap dudulc^ bersila dengan tangan kanan terkepal di' atas pangkuan, telentang, dan tangan kiri diangkat ke depan dada jari-jari tfengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar. "Susiok-couw, bagaimana sekarang...?" Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut. "Susiok-couw.....!" la berseru agak keras sambil berdongak memandang. Kakek itu masih duduk bersila dengan mata meram. Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini, berubah air muka-' nya. Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kem-bali tangannya. Kepalan itu dingin sekali. Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan. Kakeknya itu -seperti orang tidur tanpa bernapas. "Susiok-couw.....!" Tiba-tiba dia mendengar suara dt belakangnya, "Dia sudah mati. Ah, Sin-eng-cu, kau benar-benar hebat. Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku. Aku mengaku kalah!" Yo Wan menoleh dengan heran. Bhe-wakala sudah berdiri di situ dan biarpun kelihatannya masih amat lemah, kiranya pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar kedatangannya. Akan tetapi dia segera menghadapi Sin-eng-cu lagi, berlutut dan memberi hormat sebagaimana layaknya sambil berkata, "Harap Susiok-couw sudi mengampuni teecu yang tidak mampu menolong Susiok-couw yang terluka se^ hingga hari ini Susiok-couw meninggal dunia." la tidak dapat menangis karena memang dia tidak ingin menangis. "Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga daiam karena pusat pengerahan sinkang di tu'-buh kami rusak akibat pukulan. Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati uga, kematian wajar dari usia tua." Bhewakala maju menghampiri kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba pendeta Nepal ini memeluknya. "Sin-eng-cu, tua bangka..... terima kasih. Be-lum pernah selama hidupku merasa be-gitu senang dan gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu Umu ini. Kau hebat, sahabatku, kau hebat. jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat ku-mainkan di depanmu....." Pendeta ini Salu membaringkan tubuh Sin-eng-cu. Tangan dan kaki kakek itu sudah kaku, akan tetapi begitu disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, menjadi lemas kembali dan dapat ditelentangkan. Kemudian pendeta hitam Tni berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran. Memang seorang yang aneh dan luar biasa pendeta hitam ini, pikirnya. "Yo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta akan tetapi tak pernah menerima warisan ilmu silatnya kecuali pelajaran langkah-langkah yang tiada artinya dalam menghadapi lawan. Kau bukan murid kami namun kau telah mewarisi inti sari daripada ilmu silat kami berdua. Memang lucu. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau murid tunggalku dan selalu aku menanti kunjunganmu ke Anapurna di Himalaya. Selamat tinggal, muridku." Setelah berkata demikiar, Bhe-wakala berjalan ke luar dari pondok itu, wajahnya muram seakan-akan kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-eng-cu. Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya amat kesunyian. Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi telah pergi. Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu. Namun dia segera dapat menguasai perasaannya. la bukan kanak-kanak lagi. Ketika suhu dan subonya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih. Sekarang dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan Sin-eng-cu beberapa hari yang lalu. Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-eng-cu yang menghitungnya. Seorang jejaka. Jaka Lola, tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak - kadang. Di dunia ini hanya ada suhu dan subonya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan tahun tanpa berita. Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-eng-cu di belakang pondok. la tidak tahu bagaimana harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di sekeliling kuburan. la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian besarnya, tidak tahu bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati beratnya! "Aku harus menyusul suhu dan subo ke Hoa-san." Pikiran inilah yang pertama-tama memasuki kepalanya. Tenngat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-san tiga tahun yang lalu, dia merasa me-nyesal sekali. Mengapa dia dahulu ddak jadi menyusul? Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-san, :entu saat ini dia sudah berada bersama suhu dan subonya. Akan tetapi, dia tenngat lagi betapa dua orang kakek yang meng-adu ilmu itu mennbuat dia betah, malah selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada suhu dan subonya, juga membuat dia tak pernah meninggalkan puncak karena kedua orang itu melarang-nya. Biarpun bumbu-bumbu habis, mereka tidak membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhe-wakala in6nyuruh dia mengambil ber-macain-macam daun di puncak yang ter-nyata dapat mengganti bumbu dapur. Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak. Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh pendeta itu dia gulung melingkari pinggangnya, ter-sembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan tidak karuan potongannya. Juga pedang kayu buatan Sin-eng-cu yang . dipakai untuk bermain jurus di depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang. Berangkatlah Yo Wan si 3aka Lola irieninggalkan puncak Liong-thouw-san, berangkat dengan hati lapang dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali idengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu suhu dan subonya. la tidak sadar ,sama sekali, betapa dirinya kini telah mengalami perubahan hebat berkat latihan Iweekang menurut ajaran Sin-eng-cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain inemiliki tenaga sinkang yang hebat juga telah memiliki ilmu-ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang! Ketika penduduk sekitar kaki gunung yaog sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka segera menegur dan mempersilakan dia singgah. Mereka menyatakan penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga tahun ini bersembunyi saja. Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan. Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih. la sendiri tidak ingin suhu dan subonya marah dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel itu. Segera dia menukar pakaiannya dan kini biarpun pakaiannya sederhana dan terbuat daripada kain kasar, namun cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada tambalan menghiasnya. * * * Yo Wan melakukan perjalanan se-perti seorang yang linglung. Dia seperti seekor anak burung yang baru saja be-lajar terbang meninggalkan sarangnya. Semenjak usia delapan tahun, dunia-nya hanya puncak Bukit Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung. Biarpun di waktu kecilnya dia per-nah melihat kota dan tempat-tempat ramai, namun selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gu-nung, dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia seperti seorang dusun yang amat bodoh. Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya. Melihat banyak orang membuat dia bingung. Apalagi ilmu membaca dan menulis. la seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku! Akan tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah. Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup, biarpun masih muda, ji.wanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir penghidupan, mem-buatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah. Tidak sukar baginya untuk mengatasi ke-kurangannya dalam perjalanan. Kadang-kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari. Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan. Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum dia me-lakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan lain pekerjaan untuk membalas budi. Kadang-kadang orang dusun atau kota ada yang mau menerima bantuan tenaga-nya untuk ditukar dengan makan sehari itu. Dengan cara demikian, Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san. la berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri daripada keributan, dan tak pernah dia memperlihatkan kepada siapapun )uga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi. Yo Wan sendiri sebetulnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari kepandaian dua orang kakek berilmu sung-guhpun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain. Oleh karena inilah maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan mernbalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu de-ngan suhunya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya itu. Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-san. Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gu-nung itu, sebuah gunung yang tinggi dan hijau, tidak liar seperti Gunung Liong-thouw-san. membayangkan pertemuan dengan suhu dan subonya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya termenung di situ dengan jantung berdebar-debar. Betapa-pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di dalam hatinya, rasa bahwa dia adalah seorang tamu di Hoa-san. Suhu dan subonya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri? Berpikir begiru,. timbul kegetiran. Mengapa suhunya membiarkan saja dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali? Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan tahun lamanya, membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi' Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas, diri mereka? Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Tak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw tiba di Hoa-san, Hui KauW melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasadi Hoa-san.Oleh kakeknya, anak itu diberi namaKwa Swan Bu. Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjuluk Kui-san-jin, seorane tokoh Hoa-san-pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) adalah sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu Silat Hoa-san-pai yang paling tinggi. Suami isteri ini memimpin Hoa-san-pai, dibantu oleh suhengnya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya. Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui-san-Jin dan mereka sendiri tekun bertapa. Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong dan isterinya, tentu saja menggirangkan hati kedua orang tua ini, apalagi setelah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami isteri tua ini menjadi sempurna. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang mempunyai keturunan laki-laki kecuali Kwa Kun Hong seorang. Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu yang sudah menikah dengan Tan Sin Lee putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai. Juga Kui-san-jin hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, putera lain lagi dan Raja Pedang Tan Beng San. Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan dan Pendekar Buta. Karena tidak ada keturunan lak.-laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan hati Kakek Kwa. Juga Thian Beng Tosu dan Kui san jin ketua Hoa-san-pai amat girang. Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liong-thouw-san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar. Amat tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi d puncak bukit dengan kedua orang tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya "Ia akan tumbuh besar dalam kesunnyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa san pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong karena itu sebaiknya kau memmbiarkan puteramu tinggal disini pula. Disini merupakan keluarga Hoa san pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkan-lah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu." Inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san. Kun Hong berunding dengan isteri-nya tentang Yo Wan. Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa Yo Wan tentu akan menyusul ke Hoa-san. "Bukankah dahulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu dua tahun kita tidak pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran." Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san. "Jangan-jangan ada sesuatu terjadi disana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya. "Atau dia memang tidak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya berkerut. Diam-diam la merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya. Seorang murid harus Wntaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik, "Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi mund kita, kalau tidak, terserah kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri." Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini sudah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san. Sama sekali mereka tidak mengira bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari, orang muda tampan sederhana yang berdin termenung di kaki Gunung Hoa-san, adalah Yo Wan. Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san. Alangkah jauh bedanya dengan Llong-thouw-san. Gunung ini be-nar-benar terawat. Tidak ada bagian yang liar. Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang. Sawah ladang terpelihara, dhanami sayur-mayur dan pohon obat. Malah jalan yang cukup le-bar dibangun, memudahkan orang naik mendaki gunung. Derap kaki kuda dari sebelah kanan terdengar, diiringi suara ketawa yang nyaring, ketawa kanak-kanak. Yo Wan mengangkat kepala memandang ke se-belah kanan dan dia menjadi kagum se-kali. Ada tiga orang penunggang kuda. Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat. Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, melainkan penunggangnya yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda. Penunggang kuda ini adalah se-orang anak laki-lakl yang kelihatannya ada sepuluh tahun usianya. Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutypi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara. Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gen-dewa dan beberapa batang anak panah. Dua orang yang menglringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti tosu dan kelihatannya amat mencinta anak itu. "Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!" "Swan Bu...... jangan.....! Itu bukan burung walet....." Seorang di antara kedua tosu itu mencegah. Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kudanya dengan kedua kakinya yang kecil. Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, dan menarik tali gendewa, terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya. Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah menembus dada. Burung kecil berbulu kuning amat cantik. Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai bucung itu. Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil telah mendahuluinya, me-nyambar bangkai burung itu. Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang. "Eh, kau mau curi burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya. Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?" Yo Wan tertegun. Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa, sepasang matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati. la tahu bahwa dia berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai. Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata. "Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini....." Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri. "Swan Bu, kau terlalu. Ilmu ,memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau ayah bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu. "Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu Kalau tidak melatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang ini mencurigakan, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri". Dua orang tosu itu memandang Yo Wan. Tosu ke dua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah ? Agaknya kau bukan orang sini .. eh, apalagi kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-san? Kemarin kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda....." Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar. "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerja-an, aku mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari." Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-san-pai ini, tiba-tiba hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhunya. Bukankah suhunya itu putera Hoa-san-pai dan sekarang mondok di situ? Bagaimana kalau orang-orang Hoa-san-pai memandang rendah kepadanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta? Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah mengaku" sebagai murid gurunya agar tidak merendahkan nama gurunya. De-ngan pekerjaan ini, dia hendak melihat gelagat, melihat dulu suasana, di Hoa san-pai sebelum mengambil keputusanuntuk menehadap suhunya. "Baik, kau boleh bekerja men)adl pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga akan diber pakaian dan upah.Eh, siapa namamu? Di mana rumahmu?" "Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak mempunyai rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baik". "Bekerjalah dengan baik, ketua kami tentu akan menaruh kasihan kepadamu. Jangan sekali-kali suka mencuri, apalagi melarikan kuda," kata tosu ke dua. "Susiok, kenapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku akan merobohkannya!" "Hush, Swan Bu, jangan bicara begitu ...." "Aku paling benci penjahat, Susiok, tiap kali melihat penjahat, pasti akan panah mampus. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini." Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan. Heran sekali dia mendengar omongan seorang anak kecil seperti itu. Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri. ....' "Swan Bu kita pulang berlari sambll melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu. "Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan. A Wan, kau tuntun kuda tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan." Setelah berkata demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian dia mengajak tosu ke dua dan Swan Bu untuk berlari cepat. Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung. Memang tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak. la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu. Adapun Yo Wan sambil memegangi kendali tiga ekor kuda, melihat mereka berlari-lari cepat. Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiea ekor kuda mendaki gunung. Sambil berjalan perlahan, dia bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan bocan yang bernama Swan Bu itu. Bocah tampan dan bersemangat, memiliki dasar watak yang eaeah dan pembenci penjahat, akan tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan. Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat Yo Wan makin tidak enak lagi hatinya. la merasa bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja. Heran dia mengapa suhunya yang jujur dan budiman, subonya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhunya adalah putera ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subonya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran. la menank na-pas. Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pa-kaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri. Betapapun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih re-maja dan kurang sekali pengalaman, ku-rang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar. Iri karena dia tidak pernah merasa bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua. la teringat akan ke-adaan sendlri, seorang jaka lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini. Alang-kah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit. Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari belakang dan disusul ben-takan nyaring, "Minggir.....! Minggir.....!!" Lalu terdengar bunyi cambuk di udara. Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu "aget dan dapat menuntun tiga ekor kuda itu ke pinggir. Akan tetapi bentakan nyanng ini seakan-akan menyeretnya tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia Kaget dan tak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan meion]ak ke tengah jalan. Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di te-neah jalan. Pada saat itu, dua orang penuneeang kuda sudah datang membalap dekat sekali. Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan me-nubruk ke arah seorang di antara pe-nunggang-penunggang kuda itu. "Setan.....!" Penunggang kuda yang di'tubruk itu memaki, dia seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia ku-rane lebih empat puluh tahun, pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap. Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya. "Krakkk!" Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang patah. Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi. "Wah-wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau telah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang ke dua, usia-nya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tam-balan seperti orang pertama. "Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!" Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan. Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu kini telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan. Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, sudah terjadi hal ini. Karena kaget dan bingung, dia segera berkata, "Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku!' Si kumis tersenyum. "Bocah, ketahul-ijah. Aku dan suhengku ini adalah dua orang utusan dari Sin-tung-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda adalah urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut." "Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak. "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku. Kau ha-rus mengganti kuda ini!" Muka si kumis menjadi merah. la heran sekali. Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap hormat kalau mendengar bahwa mereka adalah utusan '